Tarif Trump
Hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun terakhir diwarnai persaingan tajam yang dikenal sebagai perang dagang. Konflik tersebut bermula ketika pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap berbagai produk impor asal China dengan alasan melindungi industri domestik dan mengurangi defisit perdagangan AS.
Washington menuding China melakukan praktik perdagangan tidak adil, termasuk subsidi industri, pencurian kekayaan intelektual, transfer teknologi paksa, dan pembatasan akses perusahaan asing ke pasar domestik China.
Sebagai respons, Beijing memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk AS, termasuk komoditas pertanian, energi, dan manufaktur. Ketegangan itu memicu gangguan rantai pasok global dan meningkatkan biaya perdagangan internasional.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Persaingan kemudian meluas dari tarif impor menjadi perebutan dominasi teknologi. Pemerintah AS membatasi akses perusahaan China terhadap semikonduktor canggih, teknologi kecerdasan buatan, dan peralatan chip. Washington juga menjatuhkan pembatasan terhadap sejumlah perusahaan teknologi China dengan alasan keamanan nasional.
Di sisi lain, China mempercepat upaya kemandirian teknologi dan memperluas pasar ekspor ke negara-negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS.
Meski kedua negara sempat mencapai kesepakatan dagang fase pertama pada 2020, hubungan ekonomi Washington-Beijing tetap diwarnai ketidakpercayaan. Persaingan kini tidak hanya menyangkut perdagangan barang, tetapi juga investasi, energi, teknologi strategis, kendaraan listrik, hingga dominasi rantai pasok global.
Pengamat menilai rivalitas perdagangan AS-China telah berkembang menjadi kompetisi geopolitik jangka panjang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Teknologi
Persaingan Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi konflik teknologi berskala global yang mencakup kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, komputasi kuantum, telekomunikasi, hingga penguasaan data dan infrastruktur digital.
Pemerintah AS menilai kebangkitan teknologi China tidak lagi sekadar tantangan ekonomi, melainkan ancaman strategis terhadap dominasi teknologi Barat yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Salah satu isu paling sensitif adalah perkembangan industri kecerdasan buatan China. Washington menuduh sejumlah perusahaan dan peneliti China memanfaatkan teknologi, model, dan infrastruktur AI yang dikembangkan perusahaan-perusahaan AS untuk mempercepat pembangunan sistem AI domestik China.
