Hantavirus Sudah Ada di Indonesia Sejak 1991, Kemenkes: Jenisnya Beda, dari Tikus Got

ilustrasi hantavirus
Ilustrasi hantavirus
0 Komentar

PLT. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni mengatakan bila penyakit virus Hanta sebenarnya sudah ada sejak 1991 di Indonesia.

Namun, tipe Hantavirus yang ada di Indonesia berbeda dengan yang terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius beberapa waktu lalu.

“Sebenarnya kasus ini, HRFS hantavirus di Indonesia sudah ada sejak tahun 1991. Artinya bahwa sudah cukup lama dibandingkan isu-isu (misalnya Covid-19),” kata Andi secara virtual dalam konferensi pers bertajuk ‘Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta’, Senin (11/5/2026).

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

Ia menyebut tipe penyakit Hanta yang ada di Indonesia yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) bukan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Bahkan jenis tikus yang menularkannya pun berbeda.

“Binatang pembawa penyakit HPS adalah tikus padi ekor panjang dan mencit rusa yang habitatnya di Benua Amerika. Sementara tikus HFRS itu, tikus got. Strain diantaranya hanta virus, puumala virus, Seoul virus (ditemukan di Indonesia),” jelasnya.

HFRS memiliki gejala demam, lemas dan yang paling kentara yakni adanya jaundice atau tubuh menguning, dengan Case Fatality Rate (CFR) 5-15 persen dan masa inkubasi 1-2 minggu.

“Sedangkan tipe HPS, CFR-nya lebih tinggi, yaitu 60 persen dengan masa inkubasi 1-8 minggu, untuk tipe Andes virus hingga 42 hari,” ungkapnya.

Andi mengatakan berbagai pekerjaan yang dapat meningkatkan faktor risiko adalah petugas kebersihan, petugas pengangkut sampah, petani dan aktivitas berisiko di ruang bawah tanah yang terdapat banyak populasi tikus.

0 Komentar