KTT ASEAN ke-48 di Cebu menghasilkan komitmen kuat menjadikan ASEAN sebagai Zona Perdamaian, ancaman geopolitik dari tiga titik panas tetap mengintai. Taiwan, Selat Malaka, dan Semenanjung Korea berpotensi memicu efek domino yang langsung menyentuh kepentingan Indonesia.
Pidato Presiden Prabowo Subianto di KTT ASEAN ke-48 Cebu yang menekankan ASEAN sebagai zone of peace dan penolakan menjadi pion rivalitas great power mendapat sorotan tajam. Pasalnya, di balik komitmen perdamaian tersebut, kawasan Asia Timur sedang dihadapkan pada tiga titik panas berbahaya yang bisa mengubah tatanan regional dalam waktu singkat.
Analis geopolitik asal Beijing, Prof. Jiang Xueqin, dalam analisis viralnya menyebut tiga titik kritis tersebut:
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
- Taiwan — Flashpoint utama antara China dan Amerika Serikat.
- Selat Malaka — Chokepoint ekonomi global yang menjadi urat nadi perdagangan dan energi dunia, termasuk Indonesia.
- Semenanjung Korea — Zona ketidakpastian nuklir yang sewaktu-waktu bisa memicu eskalasi besar.
Ketiga titik ini saling terkait. Gangguan di salah satunya berpotensi menciptakan efek cascade atau rantai reaksi yang meluas ke Asia Tenggara.
Selat Malaka: Ancaman Paling Dekat bagi Indonesia
Selat Malaka merupakan jalur vital bagi hampir 80% impor energi China dan perdagangan internasional. Bagi Indonesia, selat ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kedaulatan dan keamanan nasional. Semakin intensnya kerja sama militer AS-Indonesia di kawasan ini menunjukkan betapa strategisnya posisi RI dalam peta kompetisi China-AS.
Prabowo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Netralitas Aktif Indonesia harus didukung dengan pertahanan mandiri yang kuat. “Peace through strength” bukan sekadar slogan, melainkan keharusan di tengah dunia yang sedang mendidih.
Relevansi dengan KTT ASEAN Cebu
Di Cebu, Prabowo mendorong solidaritas ASEAN, ketahanan pangan & energi, serta independensi kawasan agar tidak terseret rivalitas besar. Pesan ini sangat relevan karena gangguan di Selat Malaka saja sudah cukup untuk memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu stabilitas ekonomi ASEAN.
“Sikap Prabowo realistis. ASEAN tidak boleh pasif, tapi juga tidak boleh memihak. Diperlukan diplomasi cerdas sekaligus peningkatan kapasitas pertahanan dan kerja sama intra-ASEAN yang lebih konkret,” ungkap pengamat intelijen, Bondhan W, Sabtu (9/5)
