DIREKTORAT Jenderal Imigrasi melakukan penggerebekan terkait penipuan online jaringan internasional yang melibatkan ratusan warga negara asing (WNA) di sebuah Apartemen Baloi View, di Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Penggerebekan terkait kegiatan scamming trading skema saham dan valas secara online. Kegiatan ratusan WNA tersebut sudah berlangsung selama empat minggu atau lebih dari sebulan. Korban mereka adalah orang yang berada di Eropa maupun Vietnam.
Petugas turut mengamankan berbagai barang bukti, antara lain 131 unit komputer, 93 laptop, 492 telepon genggam, 52 monitor, perangkat jaringan, mesin penghitung uang, serta 198 paspor.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
“Untuk mendeteksi adanya keterlibatan WNI, tapi ini tidak membuka peluang kami untuk terus mendalami sehingga ke depannya kami akan kejar terus siapapun pelaku – pelaku yang terlibat dalam kejahatan ini, baik WNA maupun WNI ini akan berkembang ke depannya,” Kata Kepala Imigrasi Batam, Wahyu Eka Putra dalam konferensi persnya pada Jum’at (8/5).
Lebih lanjut, Eka mengatakan saat penggerebekan dicurigai keterlibatan mobil mewah Alphard yang terparkir di Apartemen Baloi View. Saat ini sudah menjadi pantauan petugas dan masih dalam proses pengembangan. Dia menyebut, petugas mengalami kendala pemeriksaan terhadap para WNA terutama dalam segi komunikasi bahasa, lantaran ratusan WNA kebanyakan dari Vietnam.
“Terkait adanya dua buah mobil Alphard ya, itu sudah menjadi pantauan kami ini sedang dalam proses pengembangan,” ujarnya.
Dia menambahkan, ratusan WNA yang melakukan aktivitas kriminal di Batam sebagian masuk melalui pelabuhan internasional yang ada di Batam via kapal Ferry. Selain itu, sebagian ada juga yang melalui via domestik bandara luar kota Batam.
Terpisah, Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko mengatakan, ada 210 Warga Negara Asing (WNA) yang menjadi operator scamming trading skema saham dan valas secara online.
Ratusan WNA tersebut diketahui berasal dari Vietnam, Tiongkok dan Myanmar.
Secara rinci, para WNA berasal dari Vietnam (125 orang), Republik Rakyat Tiongkok (84 orang) dan Myanmar (1 orang). Dari jumlah itu, sebanyak 163 orang berjenis kelamin laki-laki dan 47 orang berjenis kelamin perempuan.
“Dilakukan deteksi dini dan mendapatkan sekitar 210 orang, ini terkait dengan penipuan investasi scammer,” Katanya saat memimpin konferensi pers pada Jumat (8/5).
