SAKSI yang juga aktor intelektual pembunuhan kepala cabang BRI Cempaka Putih Muhammad Ilham Pradipta, Dwi Hartono, mengungkapkan alasan melibatkan TNI dalam aksi penculikan dan pembunuhan Ilham. Dwi sengaja bekerja sama dengan aparat demi memuluskan rencana pergeseran dana ilegal senilai Rp455 miliar.
Saat bersaksi di pengadilan militer, Dwi menjelaskan alasan menggunakan jasa prajurit TNI karena kerap gagal dalam upaya menggeser uang rekening dari bank sebelumnya. Dia bercerita bahwa upaya mendekati sejumlah kepala cabang bank sebagai warga sipil kerap berakhir buntu karena ketakutan pihak kepala kantor cabang tersebut. Ia pun memakai jasa karena para kepala bank akan merasa lebih aman sehingga mau menolongnya.
“Kalau sipil kurang dipercaya, mereka ragu karena ini urusan ilegal. Inisiatif saya dengan Ken, lebih baik menggunakan aparat agar korban lebih segan dan percaya,” ujar Dwi Hartono saat memberikan kesaksian di hadapan Majelis Hakim dalam persidangan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Senin (4/5/2026).
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Untuk mendapat jasa tentara, Dwi menggunakan penghubung dari seorang rekanannya yang bernama Yohanes Joko Pamuntas. Dari Yohanes, Dwi dipertemukan dengan Serka Muchamad Nasir (Denma Kopassus), Kopda Feri Herianto (Denma Kopassus), dan Serka Frengky Yaru (Bekang Kopassus). Koordinasi awal bahkan sempat dilakukan di lingkungan militer, tepatnya di kantin Mako Kopassus, Cijantung.
“Siapa yang menyiapkan aparatnya?” tanya oditur.
“Saudara Joko,” jawab Dwi.
“Bagaimana itu siapkan, apakah saksi yang meminta atau serta-merta dari Joko yang menyiapkan?” tanya oditur.
“Iya, jadi waktu itu saat bertemu dengan Joko, saya bilang: ‘Jok, ini ada pekerjaan seperti ini, bisa nggak dicarikan orang di kalangan aparat yang bisa ngomong, bisa meyakinkan, agar korban ini mau kerja sama,” jawab Dwi.
Meski melibatkan tiga anggota Kopassus, rencana Dwi dan komplotannya untuk membawa Ilham Pradipta dalam keadaan sadar dan masih hidup gagal. Ilham ditemukan meninggal di salah satu kawasan di Bekasi pada 21 Agustus 2025, usai dibunuh sehari sebelumnya.
“Syarat utamanya korban harus sehat walafiat agar bisa masuk kantor dan proses di komputer. Itu tidak akan terjadi kalau korban meninggal,” tegas Dwi.
