Aktivitas Intelijen Asing di Indonesia 2025–2026

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI
0 Komentar

Kasus-kasus tersebut menegaskan bahwa ancaman intelijen saat ini bersifat hybrid — menggabungkan HUMINT (human intelligence), cyber, dan influence operation.

Celah terbesar yang dimanfaatkan aktor asing bukan hanya dari luar, melainkan dari internal: korupsi, konflik kepentingan elit domestik, dan lemahnya mekanisme screening serta counter-intelligence.

Indonesia bukan sekadar korban, melainkan pemain penting dalam peta geoekonomi dan geopolitik dunia. Namun tanpa kewaspadaan yang tinggi, kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis kita justru bisa menjadi “kutukan”.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Seberapa kuat mekanisme counter-intelligence kita di sektor mineral strategis dan infrastruktur digital?Apakah koordinasi antarlembaga (BIN, BSSN, Kemenko Polkam, ESDM, BKPM) sudah cukup antisipatif terhadap ancaman hybrid?

Bagaimana memastikan hilirisasi nikel dan pengelolaan SDA lainnya benar-benar memberikan kedaulatan ekonomi bagi Indonesia, bukan hanya keuntungan segelintir pihak?

Di era 2026, Indonesia tidak boleh naif. Penguatan intelijen nasional yang transparan, berintegritas, berbasis teknologi, dan berorientasi pada kepentingan nasional adalah keharusan mendesak.Meja Bedah delik.tv akan terus melakukan audit forensik terhadap isu-isu strategis ini. Kami mengajak publik untuk turut serta menyumbang data dan perspektif yang membangun.

Penulis: Pengamat Intelijen, Bondhan W

0 Komentar