Langkah ini bukan pertama kalinya disuarakan Trump. Selama masa jabatannya, ia kerap mengkritik sekutu Eropa terkait kontribusi dalam NATO. Saat ini, jumlah pasukan AS di Jerman diperkirakan mencapai puluhan ribu personel.
Kebijakan tersebut juga disebut berkaitan dengan sikap sejumlah sekutu yang tidak sepenuhnya mendukung langkah militer AS dalam konflik Iran maupun kontribusi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Respons Jerman dan Penegasan Kemitraan NATO
Menanggapi ancaman tersebut, Jerman menyatakan siap menghadapi kemungkinan pengurangan pasukan AS. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan pihaknya telah membahas isu ini secara serius dalam kerangka NATO.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Kami siap untuk itu, kami sedang membahasnya secara saksama dan dalam semangat kepercayaan pada semua badan NATO, dan kami mengharapkan keputusan dari Amerika tentang hal ini,” ujarnya, seperti dilansir AFP, Kamis (30/4/2026).
Ia menambahkan bahwa setiap keputusan akan dibahas bersama para sekutu.
“Keputusan apa pun akan ‘dibahas dengan kami dan dengan pihak lain, sebagaimana mestinya di antara sekutu’,” katanya.
Meski bersikap tenang, Wadephul menekankan pentingnya keberadaan pangkalan militer AS di Jerman. Ia menyebut fasilitas seperti Pangkalan Udara Ramstein memiliki “fungsi yang tak tergantikan bagi Amerika Serikat dan bagi kita berdua”.
Jerman juga menegaskan komitmennya terhadap kemitraan transatlantik.
“Kami melakukan ini untuk kepentingan transatlantik bersama kami. Kami melakukannya dengan saling menghormati dan pembagian beban yang adil,” ujar pihak pemerintah Jerman.
