Trump Terima Arahan Rencana Baru Potensi Aksi Militer di Iran

 Kapal penyapu ranjau USS Santa Barbara (LCS 32) yang membersamai USS Tulsa (LCS 16) tiba di Singapura sebel
 Kapal penyapu ranjau USS Santa Barbara (LCS 32) yang membersamai USS Tulsa (LCS 16) tiba di Singapura sebelum bertolak ke Selat Hormuz pada 18 Maret 2026. - (Warship Cam)
0 Komentar

PRESIDEN AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan mengenai rencana baru mengenai potensi aksi militer di Iran pada hari Kamis dari pemimpin Komando Pusat AS, Laksamana Bradley Cooper, lapor Axios, juga pada Kamis.

Tiga sumber yang tidak disebutkan namanya yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada outlet tersebut bahwa CENTCOM telah menyusun rencana untuk serangkaian serangan “pendek dan kuat.

Gedung Putih dan Komando Pusat AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Israel dan Amerika melancarkan kampanye mereka melawan Iran pada 28 Februari dalam upaya untuk menggoyahkan rezim tersebut dan menghancurkan kapasitas nuklir dan rudal balistiknya. Iran membalasnya dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS.

Gencatan senjata yang rapuh telah dicapai tiga minggu lalu, namun kedua belah pihak masih berbeda pendapat, dan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik terhenti.

Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran. Pakar hukum internasional mengatakan serangan semacam itu mungkin merupakan kejahatan perang. Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang perilaku kemanusiaan dalam perang melarang serangan terhadap lokasi yang dianggap penting bagi warga sipil.

Salah satu sumber mengatakan opsi lain yang disiapkan termasuk pengambilalihan sebagian Selat Hormuz untuk dibuka kembali bagi pelayaran komersial, dalam operasi yang mungkin melibatkan pasukan darat.

Perang Iran, yang masih tidak populer di AS, telah mengguncang pasar dan menaikkan harga minyak. Iran telah memblokade Selat Hormuz, yang merupakan titik penghubung (chokepoint) bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global, sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Sebagai tanggapan, AS mencoba menekan ekspor minyak Iran dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Washington berniat membuat Iran lebih fleksibel di meja perundingan mengenai masalah nuklir, Axios melaporkan. Opsi lain yang mungkin muncul dalam pengarahan tersebut adalah operasi pasukan khusus untuk mengambil persediaan uranium Iran yang telah diperkaya, kata Axios.

Mayoritas uranium Iran yang telah diperkaya kemungkinan besar masih terkubur di kompleks nuklir Isfahan, yang dibombardir oleh serangan udara tahun lalu dan menghadapi serangan lebih lanjut namun tidak terlalu intens dalam perang tahun ini, kata kepala badan nuklir PBB kepada The Associated Press pada hari Rabu.

0 Komentar