Purbaya Ungkap Tak Hanya Faktor Global Pemicu Pelemahan Nilai Tukar Rupiah, Ada Noise Seolah Kita Terpuruk

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Dok : Ist),
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Dok : Ist),
0 Komentar

MENTERI Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, tidak hanya faktor global, penyebab pelemahan nilai tukar rupiah saat ini di antaranya adalah persoalan domestik.

Ia menyampaikan adanya noise –yang bernuansa pesimistis- di dalam negeri, menyebabkan nilai tukar rupiah kian tertekan.

Pada perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah terpantau bergerak di sekitar level Rp 17.220-an per dolar AS. Beberapa hari belakangan, rupiah sempat menembus posisi terlemahnya sebesar Rp 17.300 per dolar AS.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan,” kata Purbaya dalam agenda Media Briefing di Kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Kementerian Keuangan RI, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Purbaya menyinggung para pengamat atau ekonom yang menyampaikan proyeksi ekonomi terpuruk ditandai dengan terjadinya tren pelemahan rupiah. Seiring dengan kurang kuatnya fundamental ekonomi domestik, di tengah tantangan ketidakpastian global.

“Mereka bilang kan tiga bulan (ekonomi terpuruk), kan berarti dua bulan lagi, Juni atau Juli. Tapi keadaan enggak seperti itu,” ungkapnya.

Tak hanya menyinggung soal noise yang dimunculkan dari para pengamat atau ekonom, Purbaya juga menyinggung keberisikan dari orang dalam (ordal) Kementerian Keuangan. Ia menyampaikan noise itu berkaitan dengan kebijakan pajak.

“Noise dari Pemerintah sudah kita rapikan nih. Pajak sudah enggakada lagi. Pajak orang kaya, pajak PPN untuk jalan tol, dan lain-lain itu enggak ada. Kalau mereka melihat reinsra, reinsra kalau saya bilang enggak ada. Kenapa? Lebih baik saya rapikan yang ada sekarang. Dan kurangi kebocorannya semaksimal mungkin. Masih cukup besar bocornya dan masih ada yang main-main,” ungkapnya.

Purbaya menegaskan, ia tidak segan untuk melakukan mutasi terhadap anak-anak buahnya yang menimbulkan noise, yang mengganggu kondisi perekonomian.

“Sentimen negatif yang disebutkan tadi harusnya enggak ada di sistem. Sekarang sudah dirapikan,” ujarnya.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

“Jadi banyak noise yang membuat menimbulkan sentimen negatif di mana-mana. Saya hilangkan noise,” tegasnya.

Menurut pandangan Purbaya, noise-noise tersebut membentuk ekspektasi yang bergulir di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, perlu ada langkah pengendalian terhadap noise-noise ‘pengganggu’ tersebut.

0 Komentar