Airlangga Hartarto Tanggapi Isu Kesepakatan Dagang Amerika Serikat-Indonesia yang Terancam Batal

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)
0 Komentar

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menanggapi isu kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia yang terancam batal. Menurutnya, kesepakatan tersebut tinggal penyelesaian legal drafting.

“Masalahnya (terkait kesepakatan dagang Indonesia-AS) karena belum ditandatangan. Pokoknya harapannya kita bisa selesaikan perundingan legal drafting-nya di bulan Desember ini. Dokumennya namanya ART, Agreement on Reciprocal Tariff,” ujar Airlangga kepada awak media di Jakarta, Jumat (12/12).

Menko Perekonomian juga memastikan tidak ada masalah terkait non-tariff barrier dalam perjanjian tersebut. “Non-tariff barrier tinggal ditulis saja,” katanya.

Baca Juga:Pemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 MiliarKetika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah Menjawabnya

Airlangga mengatakan Indonesia akan mengirim perwakilan ke Negeri Paman Sam pekan depan. Dirinya akan turut serta dalam tim tersebut.

“Tim akan berangkat minggu depan dan akan mefinalisasi sesuai dengan joint statement yang tertanggal 22 Juli. Saya akan berangkat juga,” ujarnya.

Ia juga menyebut tidak ada rencana Presiden Prabowo untuk bernegosiasi langsung dengan Presiden AS Donald Trump. “Antara Pak Presiden Prabowo dan Presiden Trump sudah selesai. Itu sudah bagian dari joint statement kemarin,” pungkasnya.

Sebelumnya, Washington menuding Jakarta mulai mengingkari komitmen yang disepakati pada Juli lalu. Menurut laporan Financial Times, sejumlah sumber yang memahami dinamika perundingan menyebut Perwakilan Dagang AS (USTR), Jamieson Greer, menilai Indonesia mundur dari janji dalam beberapa poin penting.

Menurut sumber tersebut, pejabat Indonesia memberi tahu USTR Jakarta tak bisa menyetujui sejumlah komitmen mengikat dan mengusulkan perumusan ulang.

Washington menilai langkah itu akan menghasilkan kesepakatan yang lebih buruk dibanding perjanjian AS dengan Malaysia dan Kamboja.

“Indonesia bukan sekadar memperlambat pelaksanaan kesepakatan seperti pengalaman dengan mitra dagang lain. Indonesia secara terang-terangan menyatakan tidak dapat menjalankan apa yang telah disepakati dan ingin merundingkan ulang agar komitmen menjadi tidak mengikat,” kata sumber tersebut dikutip dari Financial Times.

Baca Juga:Usai Aksi Protes Penggerebekan Imigrasi, Los Angeles Rusuh Donald Trump Kirim Ribuan Garda NasionalSekjen DPR Sebut Terima Surat Forum Purnawirawan TNI soal Pemakzulan Gibran: Kami Teruskan ke Pimpinan

“Ini sangat bermasalah dan tidak diterima baik oleh Amerika Serikat. Indonesia berisiko kehilangan kesepakatannya,” ujarnya.

0 Komentar