Pendekatannya didasarkan pada penolakan multilateralisme demi perjanjian bilateral yang lebih menguntungkan Washington, keinginan untuk merelokasi industri Amerika, dan sikap tegas terhadap Tiongkok dan Eropa.
Namun, modernisasi doktrin ini disertai dengan ketegangan dengan sekutu tradisional Amerika Serikat dan meningkatnya polarisasi di dalam negeri.
Sementara para pendukungnya menyambut baik kembalinya kedaulatan ekonomi dan diplomasi yang kuat, para pencelanya mengecam isolasi internasional dan kebijakan dengan konsekuensi jangka panjang yang tidak pasti.
Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan
Oleh karena itu, warisan doktrin ini tetap menjadi bahan perdebatan: apakah doktrin ini memperkuat Amerika Serikat atau melemahkan kepemimpinan globalnya?
Lebih dari satu abad setelah kemunculannya, dapatkah Donald Trump benar-benar tampil sebagai pewaris sah doktrin bersejarah ini, atau apakah ia telah mendistorsi prinsip-prinsipnya untuk melayani visi kekuasaan yang lebih personal?
Penulis: Pengamat Intelijen dan Politik, Bondhan W
