Siapa 5 Wartawan yang Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Lima jurnalis hilang kontak di Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa)
Lima jurnalis hilang kontak di Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa)
0 Komentar

Selama menjalani profesinya, Bagus telah menghasilkan berbagai karya jurnalistik dan meraih sejumlah penghargaan di bidang fotografi. Salah satu karya terakhirnya yang berkaitan dengan Gunung Anak Krakatau bahkan sempat diunggah di akun Instagram Presiden RI Prabowo Subianto.

Keluarga Bagus kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki sempat mendatangi Pos SAR Nasional dan bertemu dengan keluarga pewarta foto tersebut. Dalam kesempatan itu, Hengki menyampaikan dukungan moral dan meminta keluarga tetap tenang serta mempercayakan proses pencarian kepada tim SAR gabungan.

Arie Basuki, Pewarta Foto Senior Merdeka.com

Arie Basuki merupakan salah satu pewarta foto senior Indonesia yang telah puluhan tahun menjalani profesi jurnalistik. Ia lahir di Bogor pada 11 Maret 1974 dan merupakan alumnus Ilmu Antropologi Universitas Udayana, Bali. Ketertarikannya pada fotografi jurnalistik membawanya memulai karier sebagai fotografer pada 1998.

Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan

Sebelum bergabung dengan Merdeka.com, Arie pernah bekerja di sejumlah media, antara lain Nusa Tenggara Newspaper, Bali Echo, dan Tempo. Ia kemudian bergabung dengan Merdeka.com pada 2012 dan dikenal sebagai salah satu fotografer senior yang banyak menghabiskan waktunya di lapangan.

Di kalangan rekan-rekannya, Arie dikenal dengan sejumlah panggilan, antara lain Arbas, Bang Barong, dan Honey. Dalam profil yang pernah dimuat Merdeka.com, Arie digambarkan sebagai pribadi yang tidak banyak berbicara dan lebih banyak menyampaikan cerita melalui kamera. Kopi hitam, rokok kretek lintingan, dan kamera menjadi beberapa hal yang lekat dengan kesehariannya.

Pengalaman jurnalistik Arie mencakup berbagai peristiwa besar dan berisiko tinggi. Ia pernah meliput operasi militer Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pada 2003, tsunami Aceh pada 2004, tsunami Pangandaran pada 2006, gempa Yogyakarta pada 2006, konflik Poso, kerusuhan di Priok, Jakarta Utara, hingga perang saudara di Libya pada 2011.

Dari berbagai pengalaman tersebut, tsunami Aceh 2004 dan perang saudara di Libya 2011 disebut sebagai dua peristiwa yang paling membekas dalam perjalanan jurnalistiknya.

Salah satu pencapaian terbesar Arie terjadi pada 2024 ketika karyanya berjudul “Pollution in the Cileungsi River” mendapatkan honorable mention dalam World Press Photo 2024 untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania.

0 Komentar