Kasus Keracunan MBG Semarang: Penyebab Masih Diselidiki, BGN Terapkan Zero Tolerance

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjenguk para korban yang keracunan program Presiden Prabowo Subia
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjenguk para korban yang keracunan program Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis (MBG) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026). (IST)
0 Komentar

Kondisi Pasien Keracunan Mulai Membaik

Kepala BGN Sudaryono juga menjenguk para korban dugaan keracunan menu MBG pada Sabtu (1/8) di beberapa rumah sakit swasta. Saat ini sebagian korban dirawat di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum setelah mengalami keracunan pada Jumat.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjenguk para korban yang keracunan program Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis (MBG) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026). FOTO/istimewa

“Jadi ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Jadi ada sekitar 700-an sekian, kemudian sebagian itu kemudian ada yang mual, ada yang buang air dan seterusnya,” ujarnya.

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

“Dari sekitar 700-an itu yang dirawat, yang dirawat 13. Ada yang di rumah sakit, ada yang di puskesmas. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik,” sambung Sudaryono.

BGN Terapkan Zero Tolerance untuk Keamanan Pangan

Sudaryono turut mengeklaim BGN telah menerapkan kebijakan zero toleranceterhadap insiden keamanan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan Program MBG.

“Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru ini memastikan itu, zero toleranceterhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan hanky-panky, nitip-nitip duit itu nggak boleh lagi,” ujarnya.

Sudaryono menambahkan, untuk mencegah kejadian serupa, BGN mempercepat penerapan sistem digital yang mendokumentasikan seluruh tahapan produksi makanan, mulai dari waktu memasak, menu, hingga penggunaan bahan dan bumbu sehingga dapat dipantau secara menyeluruh.

Selain memperkuat pengawasan melalui sistem digital, ia meminta seluruh SPPG mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat. Kepala dapur disebut bertanggung jawab memastikan seluruh petugas menjalankan prosedur kebersihan dan keamanan pangan, termasuk mencuci tangan serta menggunakan sarung tangan dan masker saat mengolah makanan.

“Supaya tidak terulang lagi, harus ikuti SOP. Kemudian SOP diikuti, sistem diikuti, terus kemudian komandannya Kepala Dapur SPPG. Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ, barangkali mungkin ada satu-dua yang ngeyel. Ya harus ada leadership di situ,” sebutnya.

0 Komentar