“Kemudian yang ketiga, jadwal harus satu tahun sebelumnya. Jadi gini, perkembangan dunia global itu sangat dinamis. Hari per hari. Nah, jadi ada jadwal tahunan dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara,” sebutnya.
Selain itu, Teddy juga menjelaskan soal frekuensi kunjungan Prabowo keluar negeri karena menyangkut kondisi krisis dunia. Prabowo disebut menjabat sebagai Presiden saat perang terjadi di sejumlah belahan dunia.
“Kemudian yang keempat, masalah protokoler dan frekuensi luar negeri dalam satu setengah tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE dan lain sebagainya,” ujar Teddy.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Kunjungan Prabowo ke luar negeri, kata Teddy, bagian dari upaya untuk membangun kedekatan dengan pemimpin dunia. Dari kedekatan itu, menurut Teddy, Prabowo dapat meminta bantuan ketika Indonesia mengalami krisis.
“Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik,” ucap Teddy.
“Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya. Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup. Nah itulah diplomasi,” imbuhnya.
Bantah Gagah-gagahan, Bicara Capaian
Teddy membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Prabowo Subianto hanya bersifat seremonial atau sekadar pencitraan. Menurutnya, berbagai lawatan dan diplomasi yang dilakukan Prabowo menghasilkan capaian konkret bagi Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir.
“Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” kata Teddy.
Teddy lantas memaparkan sejumlah hasil dari diplomasi aktif Prabowo. Pertama, Indonesia berhasil menjadi anggota BRICS. Menurutnya, keanggotaan tersebut memberikan manfaat strategis di tengah ketidakpastian global, termasuk menjaga stabilitas pasokan energi dan pangan nasional.
