MEDIA Singapura menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah dan serangkaian kejahatan jalanan baru-baru ini di Jakarta, dan video viral tentang perampokan yang menargetkan wisatawan. Namun, para turis Singapura dilaporkan tak terpengaruh dengan hal itu, karena mereka punya tujuan lain.
Dalam artikelnya bertajuk “Jakarta crime fears rise, but rupiah slide keeps Singaporeans coming for shopping and food”, media Singapura, The Straits Times menuliskan bahwa bagi banyak orang, nilai tukar rupiah yang lemah telah meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai tujuan belanja dan kuliner.
“Tidak ada waktu untuk takut — terlalu banyak belanja yang harus dilakukan,” canda Noraini Rahmat saat diwawancarai The Straits Times, Senin (1/6/2026). Perempuan berumur 52 tahun itu berada di Jakarta bersama dua saudara perempuannya untuk apa yang ia sebut sebagai “maraton belanja besar-besaran” dari tanggal 22 hingga 25 Mei.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
“Tentu saja, ketika video seperti itu menjadi viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi jujur saja, kami hanya mencoba berhati-hati seperti yang kami lakukan di Singapura atau kota besar lainnya,” kata Noraini, yang bekerja di industri kesehatan.
“Jangan berdiri terlalu dekat dengan jalan dengan ponsel Anda terpampang, jangan biarkan tas Anda terbuka. Anda tahu, hal-hal dasar seperti itu,” imbuh warga Singapura itu.
Rencana perjalanan Noraini termasuk berburu barang murah untuk busana muslimah di pusat perbelanjaan Thamrin City di Jakarta Pusat, melihat-lihat merek lokal populer seperti Buttonscarves di mal-mal besar, dan menikmati kuliner di Blok M. Mereka juga memaksimalkan jatah bagasi penerbangan 30 kg mereka dengan membawa kue lapis dan camilan lokal lainnya.
Noraini mengatakan nilai tukar yang menguntungkan membuat perjalanan belanja terasa lebih berarti tahun ini.
Sentimen tersebut juga diungkapkan oleh Marcus Tan, 38 tahun, yang singgah di Jakarta selama tiga hari setelah berlibur di Nusa Tenggara Timur bersama teman-temannya karena ingin berbelanja sebelum pulang.
“Seratus dolar Singapura benar-benar cukup di sini. Saya bisa membeli lebih banyak, makan lebih banyak, dan tetap merasa menghabiskan lebih sedikit daripada di tanah air,” katanya.
