Ulah arogan Ben Gvir ini dilaporkan membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pusing tujuh keliling dan didera stres berat akibat runtuhnya benteng diplomasi publik mereka.
“Kepemimpinan Israel memperlakukan ini sebagai krisis hubungan masyarakat (public relations), bukan krisis moral. Bagi Netanyahu, dosanya bukanlah penyiksaan atau penghinaan terhadap para aktivis; dosanya adalah menyiarkannya ke seluruh dunia,” jelas Nimer membedah keretakan di internal kabinet perang Israel.
Nimer menambahkan, Ben Gvir sama sekali tidak peduli dengan opini publik luar negeri. Ia sengaja memamerkan aksi sadis tersebut demi mendulang suara dari basis pemilih sayap kanan radikal di dalam negeri, seraya jemawa bahwa Israel kebal dari sanksi hukum internasional.
Evakuasi Kilat demi Redam Kerusakan Citra Global
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Para pengamat dan ahli geopolitik menilai, langkah kilat pemerintah Israel yang langsung mendeportasi ratusan relawan GSF kembali ke negara asal mereka belakangan ini bukanlah bentuk kepatuhan terhadap desakan dunia internasional.
Langkah evakuasi paksa itu murni diambil sebagai strategi panik guna meminimalisasi kerusakan yang lebih parah terhadap citra global Israel yang sudah telanjur compang-camping di pengadilan opini publik dunia.
