PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5), menekankan pentingnya membangun hubungan Tiongkok-AS yang stabil dan menghindari “Jebakan Thucydides.”
“Mampukah Tiongkok dan Amerika Serikat lolos dari ‘Jebakan Thucydides’ dan menciptakan paradigma baru hubungan negara-negara besar? Dapatkah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi dunia?” kata Presiden Xi saat bertemu dengan Presiden Trump di Balai Besar Rakyat, Beijing, Kamis (14/5) seperti dalam laman resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Jebakan Thucydides merujuk pada situasi genting ketika kekuatan besar atau negara yang sedang naik daun dianggap mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan sehingga kondisi tersebut secara historis sering memicu perang.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Dalam konteks ini, istilah tersebut dimaknai seiring meningkatnya kekuatan Tiongkok yang dianggap menantang kepemimpinan global Amerika Serikat.
Thucydides sendiri merupakan sejarawan Yunani kuno yang menulis buku Sejarah Perang Peloponnesia tentang perang antara Athena dan Sparta pada abad ke-5 SM. Karyanya dianggap sebagai analisis politik dan moral pertama mengenai perang antarbangsa sehingga ia dikenal sebagai bapak sejarah ilmiah dan realisme politik.
“Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi publik. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan zaman yang perlu dijawab bersama oleh para pemimpin negara-negara besar,” ujar Xi.
Ia juga mengaku siap bekerja sama dengan Trump untuk menentukan arah hubungan Tiongkok-AS dan menjadikan tahun 2026 sebagai momentum bersejarah yang membuka babak baru hubungan kedua negara.
Presiden Xi menegaskan bahwa Tiongkok berkomitmen mengembangkan hubungan Tiongkok-AS yang stabil, baik, dan berkelanjutan.
“Saya telah sepakat dengan Presiden Trump tentang visi baru untuk membangun hubungan Tiongkok-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis. Ini akan memberikan panduan strategis untuk hubungan Tiongkok-AS selama tiga tahun ke depan dan seterusnya, serta akan diterima dengan baik oleh rakyat kedua negara dan komunitas internasional,” ucap Xi.
Menurut Xi, “stabilitas strategis yang konstruktif” berarti stabilitas positif dengan kerja sama sebagai landasan, stabilitas sehat dengan persaingan dalam batas wajar, stabilitas konstan dengan perbedaan yang dapat dikelola, dan stabilitas jangka panjang dengan perdamaian yang dapat diharapkan.
