Dalam situasi tersebut, ASEAN berusaha mempertahankan prinsip sentralitas kawasan agar tidak terseret sepenuhnya ke orbit salah satu kekuatan besar. Namun menjaga persatuan ASEAN bukan perkara mudah.
Sejumlah negara anggota memiliki kedekatan ekonomi yang kuat dengan China, sementara sebagian lainnya lebih condong pada kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Perbedaan kepentingan itu sering membuat respons ASEAN terhadap isu geopolitik besar terlihat lambat dan berhati-hati.
Bagi Indonesia, rivalitas dua raksasa itu tidak hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga peluang. Pergeseran rantai pasok global akibat meningkatnya ketegangan AS-China dapat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi basis produksi alternatif dan tujuan investasi baru.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Hilirisasi sumber daya alam, penguatan industri manufaktur, serta pembangunan sektor teknologi domestik menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain strategis dalam perubahan ekonomi global.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan sekadar memilih antara Washington atau Beijing, melainkan bagaimana mempertahankan kemandirian strategis di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia kembali diuji relevansinya.
Dalam situasi global yang makin cair dan penuh tekanan, kemampuan menjaga keseimbangan sekaligus memanfaatkan peluang akan menentukan posisi Indonesia dalam tatanan dunia baru yang sedang terbentuk.
