Menurut dia, perang Ukraina, konflik Iran, isu Taiwan, hingga rivalitas di Indo-Pasifik sesungguhnya saling terhubung dalam perebutan pengaruh global antara Washington dan Beijing. Ersanel menilai dunia kini memasuki fase baru ketika persaingan dua kekuatan besar tidak lagi terbatas pada medan perang tradisional, tetapi juga menyebar ke energi, teknologi, rantai pasok, hingga ruang angkasa.
Ia juga menyoroti melemahnya efektivitas strategi Amerika dalam membendung China. Menurut Ersanel, hubungan China-Rusia justru semakin erat setelah perang Ukraina, sementara konflik Iran memperlihatkan keterbatasan kemampuan Washington dalam mempertahankan dominasi globalnya. Karena itu, ia mendorong munculnya “jalan ketiga” di luar poros AS maupun China.
Posisi Negosiasi Washington
Sementara itu, tulisan Alexander Gray di Fox News justru menggambarkan Trump berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding Beijing. Gray menilai kebijakan ekonomi Trump berhasil mengurangi ketergantungan Amerika terhadap China dan memperkuat posisi negosiasi Washington.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
“Agenda ‘America First’ tidak pernah sekadar tentang menutup Amerika dari dunia,” tulis Gray. “Agenda ini bertujuan memastikan Amerika berinteraksi dengan dunia, termasuk dengan China, dari posisi yang kuat.”
Gray menyoroti deregulasi ekonomi, peningkatan produksi energi domestik, dan restrukturisasi rantai pasok Amerika Utara melalui perjanjian USMCA sebagai fondasi baru kekuatan AS. Menurut dia, strategi tersebut berhasil mengurangi pengaruh China terhadap rantai pasokan global yang selama puluhan tahun menjadi instrumen utama Beijing dalam negosiasi ekonomi internasional.
Ia juga menilai China menghadapi persoalan serius akibat kelebihan produksi manufaktur dan meningkatnya upaya negara-negara Barat untuk memindahkan rantai pasok keluar dari China. Dalam perspektif Gray, Beijing kini justru berada dalam posisi defensif menghadapi perubahan arsitektur ekonomi global yang dibangun Washington.
Meski memiliki kesimpulan berbeda mengenai siapa yang lebih unggul, ketiga penulis tersebut bertemu pada satu kesadaran yang sama: rivalitas AS-China telah berubah menjadi kontestasi global yang menentukan arah dunia pada dekade mendatang.
Persaingan itu tidak lagi hanya berbentuk perang dagang seperti pada era awal Trump, tetapi telah berkembang menjadi perebutan pengaruh geopolitik yang menyentuh hampir seluruh kawasan strategis dunia. Timur Tengah, Ukraina, Taiwan, Indo-Pasifik, hingga rantai pasok energi dan teknologi kini menjadi bagian dari arena kompetisi kedua negara.
