PAKISTAN secara tegas membantah laporan media Amerika Serikat, CBS News, yang menyebut adanya pesawat militer Iran di Pangkalan Udara Nur Khan selama masa gencatan senjata yang tengah berlangsung. Pemerintah Pakistan menilai laporan tersebut menyesatkan dan tidak mencerminkan fakta di lapangan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (12/5), Kementerian Luar Negeri Pakistan menolak klaim tersebut dan menyebut narasi yang beredar berpotensi mengganggu upaya stabilitas kawasan.
“Narasi spekulatif semacam itu tampaknya bertujuan untuk melemahkan upaya yang sedang berlangsung untuk stabilitas dan perdamaian regional,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Anadolu, Selasa (12/5).
Penjelasan Pakistan soal Aktivitas Pesawat
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Pemerintah Pakistan menjelaskan bahwa memang terdapat pesawat dari Iran maupun Amerika Serikat yang sempat mendarat di wilayahnya. Namun, seluruh aktivitas tersebut disebut hanya terkait kebutuhan diplomatik, termasuk mobilitas diplomat, personel keamanan, serta tim administrasi yang terlibat dalam pembahasan deeskalasi kawasan.
Islamabad juga menegaskan bahwa sebagian pesawat dan personel masih berada sementara di Pakistan sebagai antisipasi kemungkinan lanjutan perundingan, meskipun negosiasi formal belum kembali dimulai.
Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Islamabad sebelumnya juga disebut menggunakan mekanisme logistik yang sama.
Bantahan Keterkaitan Militer
Pemerintah Pakistan menolak keras spekulasi yang mengaitkan keberadaan pesawat Iran dengan operasi militer atau kepentingan strategis tersembunyi. Islamabad menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan di luar konteks.
Pakistan kembali menegaskan posisinya sebagai fasilitator netral dalam upaya dialog regional serta komitmennya terhadap deeskalasi konflik.
Latar Ketegangan Regional
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangkaian serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian memicu balasan dari Teheran.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu tertentu. Namun, dinamika politik tetap memanas setelah Iran menyampaikan tanggapan terhadap proposal damai AS, yang kemudian ditolak oleh Trump karena dianggap tidak dapat diterima.
