Sang teman lalu membawa Myta ke IGD RSUD KH Daud Arif dan dirawat sejak 15 hingga 20 April 2026. Pada 20 April, dokter penanggung jawab pasien memperbolehkan pulang setelah observasi tambahan atas permintaannya sendiri.
Namun beberapa jam setelah pulang, Myta kembali mengalami demam tinggi dan sesak napas. Myta kembali masuk IGD dengan keluhan sesak dan demam.
“Terus dokter MAA, jam 10.30-nya, keluarganya datang, keluarga ini berada di OKU selatan,” katanya.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Keluarga Myta yang datang dari OKU Selatan kemudian membawanya ke RSUD Raden Mattaher Jambi. Perjalanan dilakukan menggunakan mobil pribadi dengan oksigen pinjaman dari dokter pendamping, tanpa ambulans dan tanpa prosedur rujukan resmi.
“Dan proses transfer tanpa melalui persis rute, dan tidak menggunakan ambulans. Karena tidak mengikuti proses yang tadi. Yang seharusnya dengan kondisi seperti ini, harusnya juga menggunakan ambulans,” katanya.
Di RSUD Raden Mattaher, Myta dirawat sekitar tiga hari sebelum diperbolehkan pulang pada 24 April 2026. Setelah itu, dia sempat kembali ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship. Namun, dokter pendamping menyarankan agar ia beristirahat selama satu hingga dua minggu.
“Karena kalau di kosan itu nanti tidak ada siapa-siapa,” katanya.
Pada 25 April, kondisi MAA kembali memburuk dan mengalami demam tinggi. Dia sempat dibawa ke klinik milik pamannya di OKU Selatan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin.
MAA tiba di RSUP Mohammad Hoesin pada dini hari 27 April 2026 dan dirawat di ruang isolasi infeksi. Karena mengalami gangguan paru berat dan sesak napas, MAA dipindahkan ke ICU dan dipasang ventilator.
“Dan dokter MAA dirawat di ICU hingga wafat. Dengan kondisi penyakit paru berat di Rumah Sakit Husein,” katanya
