MENTERI Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menepis anggapan bahwa pernyataan-pernyataannya, termasuk terkait tanggapan terhadap tawaran utang dari dana moneter internasional (International Monetary Fund/IMF) kerap memicu arus modal keluar (outflow).
Soal ini, yang dilakukan Purbaya, hanyalah menolak tawaran utang dari IMF saat pertemuan courtesy meeting di Washington D.C, Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Adapun, alasan ia menolak tawaran tersebut adalah karena pemerintah masih memiliki cukup uang berupa dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di perbankan.
“Kita enggak minta pinjaman, mereka nawarin, mereka punya uang, saya bilang saya enggak butuh, uang saya cukup,” katanya kepada awak media, di Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Sayangnya, pernyataan tersebut justru dipelintir oleh para ekonom sehingga penolakan tawaran utang tersebut menjadi berkonotasi negatif.
“Jadi, ekonom-ekonom itu yang men-twist (penolakan tawaran utang) itu jadi negatif. Justru dia membuat negatif, bukan saya,” tambah Purbaya.
Selain itu, Purbaya meyakini kondisi fiskal saat ini masih cukup apik kendati ada modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2026 yang sebesar 5,61 persen secara tahunan.
“Anda lihat fiskal seperti apa? Bagus sekali, ekonomi tumbuh. Apalagi? Di dunia itu kita nomor 1, dengan defisit segitu kita bisa tumbuh 5,6 apa lagi yang diminta? Kita udah paling jago udah,” tegasnya.
Sementara itu, dalam tayangan YouTube Awalil Rizky, ekonom Yanuar Rizky mengatakan saat IMF langsung menawarkan utang kepada Menteri Keuangan. Artinya, memang ada sinyal krisis ekonomi yang akan dihadapi Indonesia.
“Karena yang menjamin ini pemerintah. Yang mengeluarkan statement Menteri Keuangan kan? IMF menawarkan utang kan? Jadi kalau saya sebagai investor membacanya Mas Awalil, BI punya masalah likuiditas,” kata Yanuar kepada pemilik channel YouTube sekaligus ekonom Bright Institute, Awalil Rizki.
Namun, jika masalahnya hanyalah BI kekurangan likuiditas, bisa saja IMF sebagai mitra strategis BI memberikan usulan agar BI melakukan swap line dengan bank sentral lainnya. Artinya, BI dapat melakukan perjanjian dengan bank sentral lainnya untuk saling menukar mata uang dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang telah disepakati guna mengatasi kekurangan likuiditas mata uang asing dalam negeri.
