CANDY alias Ken, otak pelaku pembunuhan kepala cabang sebuah bank BUMN di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Muhammad Ilham Pradipta, mengungkap bahwa dirinya telah memiliki jejak rekam dalam membobol uang dari satu rekening ke rekening lain secara ilegal.
Hal itulah yang membuat Ken percaya diri untuk melakukan hal serupa denganlocus delicti berbeda dari sebelumnya di Bandung dan kemudian mengincar sebuah cabang bank BUMN di Cempaka Putih.
“Sudah pernah berapa kali saksi melakukan perbuatan seperi ini terkait mengalihkan dana dari rekening ke rekening penampung,” tanya Oditur Wasinton Marpaung dari Oditurat Militer II-07 Jakarta di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Jakarta Timur, Senin (4/5/2026).
“Yang berhasil satu kali,” jawab Ken.
“Di mana itu?” tanya oditur.
“Di Bandung,” jawab Ken.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Ken menjelaskan bahwa upaya pembobolan uang itu melibatkan kepala kantor cabang bank tersebut dan berhasil memindahkannya dari rekening orang lain ke rekening penampung hingga mencapai Rp204 miliar. Meski telah dipindah ke rekening penampung, aksi terlanjur terendus aparat berwajib. Akibatnya, rekening penampung milik Ken diblokir pihak bank.
“Berapa itu nominal dananya?” tanya oditur.
“Pemindahannya Rp204 miliar, cuma keburu keblokir,” ungkap Ken.
“Tapi sudah beralih (dananya-red),” tanya oditur.
“Sudah,” jawab Ken.
Kemampuan Ken dalam memindahkan isi rekening ke rekening penampung lainnya membuat pelaku intelektual lainnya, yaitu Dwi Hartono ikut tertarik untuk misi kejahatan yang berujung pembunuhan Ilham Pradipta tersebut.
Dwi menjelaskan berdasarkan pengalaman Ken, demi memuluskan proses pembobolan dari satu rekening ke rekening penampung perlu ada keterlibatan kepala cabang bank yang memiliki akses dalam proses penggeseran dana.
Oleh karenanya, melalui keterangan Ken tersebut, Dwi menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tak ada niat untuk melakukan pembunuhan, justru diupayakan dengan cara persuasif demi memperoleh akses yang hanya dimiliki Ilham Pradipta selaku kepala kantor cabang BUMN tersebut.
“Jadi Kacab (Kepala Cabang) itu dengan apa namanya, kurang lebih sebagai Super Admin, dia memiliki User ID untuk melakukan penggeseran dana. Dia bisa melakukan di dalam ruang kerjanya dengan menggunakan komputernya tanpa persetujuan dari atau kehadiran yang si pemilik rekening. Itu bisa bergeser dalam hitungan menit ke rekening yang sudah kita tunjuk,” jelas Dwi.
