PEMERINTAH Kabupaten Bekasi mengambil langkah tegas terkait keselamatan di pelintasan sebidang kereta api. Sebanyak 10 titik pelintasan dipastikan akan dirombak total dalam waktu dekat guna menekan risiko kecelakaan fatal.
Kebijakan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran masyarakat, terutama pascainsiden kecelakaan kereta api tragis yang menelan 16 korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka di sekitar Stasiun Bekasi Timur, pekan lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengungkapkan bahwa proyek strategis ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Total anggaran yang dikucurkan mencapai Rp15 miliar dengan estimasi alokasi Rp1,5 miliar untuk setiap titik pelintasan.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Sudah ada bantuan dari provinsi, kita fokus ke 10 titik dulu untuk ditingkatkan keamanannya,” ujar Asep Surya Atmaja sebagaimana dikutip dari Infocikarang, Senin (4/5).
Modernisasi Sistem Keamanan
Asep menekankan bahwa perombakan ini bukan sekadar perbaikan tambal sulam. Pemerintah menargetkan peningkatan sistem keamanan yang lebih modern dan terintegrasi untuk menjamin keselamatan pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
Beberapa langkah teknis yang akan dilakukan meliputi:
- Pemasangan palang pintu otomatis.
- Penambahan rambu lalu lintas yang lebih jelas.
- Peningkatan intensitas penerangan di area pelintasan.
- Pengawasan lapangan yang lebih ketat.
Saat ini, pemerintah daerah masih melakukan identifikasi lokasi prioritas yang akan diperbaiki. Selain pelintasan resmi, keberadaan jalur ilegal atau pelintasan sebidang liar menjadi perhatian serius tim teknis di lapangan.
Peringatan Jalur Ilegal: Banyak warga membuka akses sendiri di sekitar rel kereta demi memotong jarak tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan. Jalur yang hanya ditutup kayu sederhana ini dinilai sangat berbahaya dan menjadi pemicu utama kecelakaan.
Evaluasi Pascatragedi Bekasi Timur
Langkah pembenahan masif ini merupakan tindak lanjut dari tabrakan maut yang terjadi pada Senin (27/4) malam. Insiden tersebut melibatkan KRL Commuter Line relasi Cikarang dengan kendaraan taksi listrik di pelintasan tanpa palang pintu resmi dekat Stasiun Bekasi Timur.
Situasi memburuk ketika KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menghantam rangkaian KRL yang sedang tertahan. Dampak dari kecelakaan beruntun tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia–seluruhnya penumpang perempuan–serta 91 orang lainnya mengalami luka-luka.
