Persediaan Minyak Mentah Global Dekati Level Terendah dalam Sejarah

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. - (Wikimedia Commons)
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. - (Wikimedia Commons)
0 Komentar

PERSEDIAAN minyak mentah global dilaporkan mendekati level terendah dalam sejarah seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah yang mengganggu lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. Hal ini disampaikan analis komoditas Goldman Sachs.

Dilansir dari Oilprice.com pada Rabu (22/4/2026), Goldman Sachs memperingatkan, bahkan jika aliran minyak melalui jalur tersebut mulai membaik pada akhir bulan ini, penurunan persediaan tetap akan berlanjut. Hal itu sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal.

Analis menyebutkan, meskipun Selat Hormuz kembali dibuka pada Mei, penyusutan stok minyak global akan terus berlangsung hingga Mei bahkan Juni.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Perang yang berlangsung sejauh ini telah menyebabkan produsen di Timur Tengah kehilangan produksi hingga 13 juta barel per hari, khusus untuk minyak mentah. Sementara itu, ekspor gabungan minyak mentah dan produk olahan dilaporkan turun sekitar 20 juta barel per hari.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, sebelumnya menyatakan lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut mengalami kerusakan, yang memperparah situasi.

Di sisi lain, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula potensi kehilangan produksi minyak. Lembaga keuangan Nomura sebelumnya memperkirakan tambahan kehilangan produksi sebesar 2,3 juta barel per hari pada Maret.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi minyak Timur Tengah tercatat turun hingga 9,3 juta barel per hari atau setara dengan tekanan pasokan sebesar 57 persen.

Sejumlah analis memperkirakan pemulihan produksi tidak akan berlangsung cepat. Mengembalikan produksi ke tingkat normal diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga akhir tahun.

Menurut Birol, pemulihan penuh produksi minyak di kawasan Timur Tengah bahkan dapat memakan waktu hingga dua tahun.

Ia menambahkan, waktu pemulihan pasokan akan berbeda-beda di setiap negara. Irak, misalnya, diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan produksi ke level sebelum perang dibandingkan Arab Saudi.

Ketahanan Energi Indonesia

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Indonesia menunjukkan daya tahan yang tangguh di tengah gejolak energi global. Dalam laporan terbaru bank investasi global JP Morgan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara paling tangguh menghadapi lonjakan harga energi dunia.

0 Komentar