Laporan tersebut menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi terbesar, yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global. Dalam kajian ini, negara-negara produsen energi besar seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab tidak dimasukkan dalam daftar karena memperoleh subsidi signifikan dari produksi domestiknya.
Penelitian ini berfokus pada tingkat sensitivitas suatu negara terhadap lonjakan harga minyak dan gas, serta kekuatan penyangga energinya melalui sumber domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir.
Hasilnya, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam perhitungan total faktor perlindungan, indikator yang mengukur seberapa besar porsi energi suatu negara yang tidak terlalu terpapar gejolak harga minyak dan gas internasional. Posisi Indonesia hanya berada di bawah Afrika Selatan.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Bahkan, ketika mempertimbangkan kombinasi ketahanan energi dan rendahnya ketergantungan impor, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global.
Kekuatan utama Indonesia terletak pada sumber daya energinya yang melimpah. Indonesia diuntungkan oleh besarnya produksi batu bara domestik, sehingga lebih tahan terhadap lonjakan harga energi global. Sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia dan produsen gas alam peringkat ke-13, Indonesia memiliki fondasi energi yang cukup kuat.
Produksi gas nasional tercatat mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik pada 2024. Bauran energi Indonesia juga semakin beragam dengan kehadiran energi terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, dan biodiesel. Diversifikasi ini membuat sistem energi nasional tidak mudah terguncang hanya karena lonjakan harga satu komoditas.
Laporan itu juga menyoroti sejumlah negara tercatat paling rentan terhadap guncangan energi global, di antaranya Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, hingga Belanda. Negara-negara tersebut memiliki ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas, terutama dari kawasan Teluk.
Menariknya, China justru tergolong relatif tangguh. Dukungan batu bara domestik yang besar serta produksi gas dalam negeri menjadikan China lebih kuat dari perkiraan banyak pihak. Fakta ini menegaskan bahwa diversifikasi energi adalah kunci menghadapi gejolak global.
Negara seperti India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina turut merasakan manfaatnya. Selain itu, perlindungan juga datang dari energi nuklir di negara-negara seperti Prancis, Swedia, Swiss, dan Republik Ceko, serta dari bauran energi terbarukan yang kuat di Brasil, Austria, dan Portugal.
