EKS Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menegaskan bahwa ancaman intervensi asing terhadap Indonesia adalah nyata dan bukan sekadar kekhawatiran berlebihan.
Menurut Boy Rafli, intervensi asing perlu dibedakan antara yang bersifat positif dan negatif. Investasi asing yang masuk sebagai permodalan dinilainya sebagai bentuk intervensi positif.
Namun, ketika pihak asing mulai mendikte kebijakan Indonesia demi kepentingan mereka sendiri, hal itu sudah masuk kategori mengancam kedaulatan negara.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Kalau dia mendikte kita, agar kita turut kepada hal-hal yang dia inginkan, tapi mengganggu kedaulatan negara kita, kepentingan negara kita, maka ini harus dijaga dengan baik,” ujar Boy Rafli dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Rabu (22/4/2026).
Ia menggambarkan Indonesia seperti gadis cantik yang selalu menjadi incaran banyak pihak di dunia. Keberagaman Indonesia, mulai dari 600 bahasa hingga 1.300 suku besar dan kecil, justru menjadi celah yang bisa dimanfaatkan untuk memecah belah bangsa melalui operasi intelijen asing.
“Kalau orang-orang yang inginkan Indonesia menjadi negara yang instabilitas, mereka bisa melakukan tindakan-tindakan itu,” kata dia.
Boy Rafli juga mengingatkan agar Indonesia tidak bersikap naif terhadap kebaikan negara lain. Menurutnya, setiap hubungan internasional harus dicermati dengan kritis dan penuh kewaspadaan agar tidak berujung pada ketergantungan yang mengikis kedaulatan.
“Ada apa di balik kebaikannya dia? Kalau kita tidak waspada, akhirnya dia akan ngatur kita nanti,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, sebagaimana kerap diingatkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Indonesia harus bisa menjaga hubungan baik dengan semua pihak tanpa mengorbankan marwah dan kepentingan nasional.
“Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Tapi ketergantungan kita dengan negara asing itu, jangan sampai menisbikan kedaulatan negara kita,” pungkasnya.
