Indonesia 'Kebal' Terhadap Gejolak Global, Ini Penjelasan Gubernur Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)
0 Komentar

Strategi Bank Sentral

Lebih lanjut, Perry menuturkan langkah-langkah penguatan bauran kebijakan strategis oleh BI dalam menghadapi tantangan global, mulai dari kebijakan moneter, makroprudensial, hingga sistem pembayaran.

“Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap dampak global,” ungkapnya.

Dari sisi kebijakan moneter, BI berupaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran, yaitu dengan meningkatkan intensitas intervensi. Baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

“Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Cadangan devisa kami 148,2 miliar dolar AS, masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Dalam mendukung stabilitas rupiah, BI terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik.

“Kami juga terus mendorong pertumbuhan uang primer M0 double digit, bahkan bulan lalu adalah 11,8 persen, dan ke depan kami akan tetap jaga di atas 10 persen, bahkan bisa mencapai 12 persen untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan,” terangnya.

Ia melanjutkan, mengenai kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran, arahnya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, di antaranya melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

BI mencatat, insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp 427,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp 358,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp 69,9 triliun. Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp 224,0 triliun, BUSN sebesar Rp 166,6 triliun, BPD sebesar Rp 29,6 triliun, dan KCBA sebesar Rp 7,8 triliun. Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor pertanian, industri dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, sektor konstruksi, real estate, dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan.

BI juga memastikan terus memperluas digitalisasi sistem pembayaran Indonesia untuk akselerasi ekonomi keuangan digital. Yang terbaru, BI meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI): Hackathon dan Digdaya (Digital Talenta Berdaya dan Berkarya). Dalam waktu dekat juga akan ada implementasi QRIS cross borderIndonesia–China pada 30 April 2026 mendatang.

0 Komentar