MENTERI Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa kenaikan harga Minyakita belakangan ini dipicu masalah kemasan plastik, bukan karena kelangkaan pasokan minyak goreng itu sendiri.
Menurut Budi, ketersediaan stok minyak goreng sebenarnya tidak bermasalah. Komunikasi dengan para produsen memastikan bahwa pasokan barang ada dan tidak ada kendala. Namun, lonjakan harga terjadi karena efek domino dari kenaikan harga bahan baku plastik kemasan.
“Ya itu tadi kan salah satu faktornya karena kemasan, kan rata-rata kemasan dari plastik semua. Nah sekarang ya dari hulunya. Kalau kesediaan minyaknya, nggak ada masalah, tetapi kan tadi faktor dari plastiknya. Makanya plastik yang harus kita selesaikan,” jelas Budi di Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga Minyakita per 21 April 2026 tercatat Rp15.896 per liter, naik 0,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di Rp15.700 per liter.
Sementara itu, harga minyak goreng kemasan premium melonjak lebih tajam hingga Rp22.333 per liter atau naik 4,69 persen dari bulan sebelumnya.
Budi mengaku telah berkomunikasi dengan kalangan industri plastik. Para produsen memastikan bahwa produksi plastik tetap berjalan dengan mengimpor bahan baku yang terus diupayakan kecukupannya. Ia berharap produksi plastik segera normal agar distribusi minyak goreng tidak lagi terbebani biaya tinggi.
“Jadi mudah-mudahan sih gak ada kendala. Nanti harapan kami produksi plastik yang normal. Jangan sampai juga nanti distribusinya tetap mahal, karena kalau produksi sudah normal, distributor juga harus menyesuaikan,” ujarnya.
Ia berharap harga minyak goreng akan mulai stabil secepatnya. Ia menekankan bahwa persoalan tidak hanya pada minyaknya semata, melainkan juga pada rantai pasok plastik yang harus dituntaskan.
Menurutnya, jika hulu sudah selesai, dampak terhadap produk lain juga akan ikut teratasi. “Kita kembali ke hulu, kita selesaikan. Karena dari hulu nanti akhirnya dampaknya ke produk yang lain,” urainya.
