KETEGANGAN di jalur pelayaran minyak paling vital dunia kembali meningkat setelah laporan intelijen Amerika Serikat menilai Iran tidak akan segera membuka Selat Hormuz. Penilaian tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa perang yang kian berlarut justru memberi Teheran kartu tawar baru untuk menekan Washington sekaligus menjaga harga energi global tetap tinggi.
Dilansir Reuters, Sabtu (4/4/2026), laporan intelijen terbaru AS memperingatkan bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan membuka Selat Hormuz dalam waktu dekat karena kendalinya atas jalur minyak utama dunia itu menjadi satu-satunya daya tawar nyata terhadap AS. Temuan ini menunjukkan Teheran dapat terus “mencekik” jalur tersebut guna mempertahankan harga energi tinggi sebagai cara menekan Presiden AS Donald Trump agar segera mencari jalan keluar dari perang.
Laporan tersebut juga menjadi indikasi terbaru bahwa perang yang awalnya dimaksudkan untuk melemahkan kekuatan militer Iran justru berpotensi meningkatkan pengaruh regional Teheran, dengan menunjukkan kemampuannya mengancam jalur pelayaran kunci dunia.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Trump sendiri berupaya meremehkan kesulitan membuka kembali Selat Hormuz yang membawa sekitar seperlima perdagangan minyak global. Pada Jumat, ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan memerintahkan militer AS membuka kembali jalur tersebut.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, MENGAMBIL MINYAKNYA, & MENGHASILKAN KEUNTUNGAN BESAR,” tulisnya di platform Truth Social.
Namun para analis telah lama memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan terhadap Iran, yang menguasai salah satu sisi selat, dapat berbiaya besar dan menyeret AS ke perang darat berkepanjangan.
“Dalam upaya mencoba mencegah Iran mengembangkan senjata pemusnah massal, Amerika Serikat justru memberi Iran senjata gangguan massal,” kata Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group, sebuah organisasi pencegahan konflik.
Menurut Vaez, Teheran memahami bahwa kemampuannya memengaruhi pasar energi dunia melalui kendali atas selat tersebut “jauh lebih kuat bahkan dibandingkan senjata nuklir.”
Sikap Trump terkait keterlibatan AS dalam membuka kembali selat juga berubah-ubah. Di satu sisi ia menjadikan berakhirnya “cekikan” Iran sebagai prasyarat gencatan senjata, namun di sisi lain ia meminta negara-negara Teluk yang bergantung pada minyak serta sekutu NATO memimpin upaya pembukaan jalur tersebut.
