Selat Hormuz Tutup Total IRGC Ancam Kapal yang Melintas, Harga Minyak Melonjak Rantai Pasok Global Terimbas

Infografis
Infografis
0 Komentar

Analis Kpler, Michelle Brouhard, mengatakan, tingginya harga minyak adalah ”tumit Achilles” (titik kelemahan) Presiden AS Donald Trump. Terlebih Trump menjanjikan kesejahteraan bagi warga menengah-bawah melalui retorika mengembalikan kejayaan Amerika Serikat (MAGA).

Perang yang berkepanjangan kemungkinan akan mengakibatkan harga minyak mentah dan bahan bakar yang lebih tinggi, menurut para ahli energi. Konsumen juga bakal mengeluarkan lebih banyak uang untuk bahan makanan dan barang-barang lainnya, padahal saat ini banyak orang sudah merasakan dampak inflasi yang tinggi.

”Bisa saja jalur pengiriman lain digunakan untuk menghindari Selat Hormuz. Akan tetapi, penutupan Hormuz tetap berdampak terhadap pasokan minyak 8 juta sampai 10 juta barel per hari,” kata Jorge Leon, analis Rystad Energy.

Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza

Secara teori, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang merupakan mitra AS memiliki cadangan minyak hingga 90 hari. Namun, kesulitan pengadaan minyak karena harga naik di atas 100 dolar AS per barel bisa terjadi.

”Jika penutupan Selat Hormuz terus berlangsung, ketersediaan cadangan minyak negara-negara tersebut akan merosot,” kata Bakr.

Selain harga minyak, harga gas juga terkerek naik. Qatar, salah satu pemasok gas utama dunia, terdampak penutupan Selat Hormuz.

Sekurangnya 60 kapal niaga Perancis terperangkap di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz. Laurent Martin, eksekutif perkapalan Armateurs de France, mengatakan, kapal-kapal niaga Perancis diperintahkan Angkatan Laut Perancis untuk mencari pelabuhan aman di Teluk Persia.

Dia menambahkan, kapal-kapal niaga Perancis tidak menjadi sasaran prioritas dalam konflik AS-Israel yang menyerang Iran. Kapal dan para anak buah kapal bisa bersandar di pelabuhan di negara Teluk.

Direktur Utama Armateurs de France Edouard Louis-Dreyfus mengatakan kepada Radio Perancis Internasional, kapal-kapal Perancis diperintahkan untuk tidak meninggalkan pelabuhan. Kapal yang berada di sekitar Laut Merah dan Teluk Oman diperintahkan menjauhi daerah perang di Selat Hormuz dan Teluk Persia.

”Ini situasi berbahaya bagi perkapalan niaga. Pangkalan Militer AS lokasinya ada di dekat pelabuhan sipil di negara Teluk,” katanya.

0 Komentar