Sejak saat itu, penanaman pohon, terutama pinus yang cepat tumbuh, secara sistematis digunakan sebagai alat untuk menutupi lebih dari 500 desa Palestina yang dihancurkan dan dikosongkan.
Hutan-hutan ini berfungsi ganda: secara fisik menyembunyikan bukti keberadaan desa-desa tersebut dan hambatan atau menghalangi kembalinya para pengungsi Palestina ke tanah leluhur mereka.
Internasional Jewish Anti-Zionist Network (IJAN) melaporkan contoh nyata dari praktik ini adalah “British Park”, yang didanai oleh cabang JNF Inggris pada tahun 1950-an dan ditanam di Desa Ajjur dan Zakariyya. Contoh lainnya adalah “Canada Park”, yang sebagian besar terletak di wilayah Tepi Barat yang diduduki (di atasnya terdapat Desa Imwas, Yalo, dan Beit Nuba), namun dipromosikan oleh JNF Kanada sebagai taman di Israel.
Baca Juga:KPK Periksa Ridwan Kamil dalam Waktu DekatInisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen Tepat
Hutan-hutan tersebut menjadi semacam tirai hijau yang menyembunyikan sejarah kelam pengungsian dan pengusiran.
Praktik itu menjadikan kontras antara pohon pinus yang ditanam secara massal, dengan pohon zaitun vegetasi asli yang telah dibudidayakan di Palestina selama ribuan tahun.
Pohon zaitun bukan sekadar tanaman, ia adalah simbol mendalamnya identitas, ketahanan, warisan budaya, dan keabadian bangsa Palestina dengan tanahnya. Terdapat laporan bahwa dalam proses “penghijauan” ala JNF dan ekspansi permukiman, banyak pohon zaitun tua milik warga Palestina yang dicabut, dirusak, atau digantikan oleh pinus dan spesies lainnya.
Perbedaan antara kedua pohon ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga ekologis. Pinus Aleppo, meskipun kadang disebut asli, keberadaan alaminya sangat terbatas di Israel modern; dominasinya saat ini adalah hasil penanaman massal.
Sebaliknya, pohon zaitun adalah bagian integral dari ekosistem Mediterania asli. Ia dikenal lebih tahan api.
Sementara Pinus Aleppo sangat mudah terbakar karena kandungan resin yang tinggi dan akumulasi jarum kering di lantai hutan. Selain itu, pohon ini memiliki mekanisme serotiny—kerucutnya tetap tertutup hingga panas ekstrem dari kebakaran yang memicunya untuk membuka dan melepaskan benih.
Ketika api menyala, ia dapat menyebar dengan sangat cepat dan luas tanpa banyak hambatan. Selain risiko kebakaran, hutan monokultur juga lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
