Sebagai alternatif, pendekatan dapat dilakukan berbasis kearifan lokal dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, serta media setempat.
“Komunikasi bencana dapat dilakukan dengan basis solusi dan bukan ancaman, pesan konsisten dan terkoordinasi, menggunakan bahasa sederhana dan konseptual, melibatkan tokoh lokal dan media lokal, serta edukasi berkelanjutan. Jadi, panik itu wajar, jangan menyalahkan diri sendiri, dan jangan biarkan kepanikan mengendalikan diri,” pungkasnya.
