Peringatan Tsunami Imbas Gempa NTT M7,7 Resmi Dicabut

Titik gempa NTT (Foto: dok. BMKG)
Titik gempa NTT (Foto: dok. BMKG)
0 Komentar

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mencabut status peringatan tsunami imbas gempa yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kekuatan 7,7 magnitudo di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menuturkan, dari hasil pemantauan BMKG sudah tidak ada lagi kenaikan permukaan air laut sehingga menjadi alasan peringatan tsunami dicabut.

“Maka peringatan tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB,” kata Nelly dalam keterangan pers secara virtual, Sabtu (15/8/2026).

Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Ia meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah panik dan selalu memperhatijan setiap peringatan yang diberikan oleh BMKG.

“Tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Nelly.

Dia juga mengmbau kepada masyarakat NTT untuk menghindari seluruh bangunan yang rentan mengalami kerusakan atau rubuh akibat gempa. Hal itu mengingat masih banyaknya gempa susulan di wilayah tersebut.

“Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” ungkapnya.

Dia menyampaikan dalam gempa bumi tersebut terbagi menjadi tiga tingkat guncangan. Guncangan pertama atau VII MMI yang dirasakan hingga mengalami kerusakan bangunan ringan dan menyebabkan semua orang keluar rumah. Guncangan tersebut terjadi di Kabuoaten Nagekeo, Riung, Ngada dan Kota Mbay.

Guncangan kedua atau VI MMI dirasakan di Woloeae dan Kota Bajawa dengan kondisi masyarakat yang berhamburan keluar rumah akibat getaran tersebut.

Di akhir atau pada tingkat V MMI dirasakan oleh semua penduduk di Kota Ende, Borong, dan Ruteng.

0 Komentar