Soerjanto lalu menjelaskan bahwa masinis gagal menghentikan laju KA Argo Bromo Anggrek lantaran ada arahan pusat kendali untuk sekadar mengerem sedikit-sedikit. Soerjanto menyebutkan masinis saat itu hanya diminta sambil membunyikan klakson.
“Tapi karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, ‘Kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35’ artinya banyak banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum, karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson,” jelas Soerjanto.
