APBN April 2026 Disebut Lebih Kuat dari Perkiraan, Ini Kata Purbaya

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA, di Jakarta, Senin (23/2/2026). (Foto:
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA, di Jakarta, Senin (23/2/2026). (Foto: Tangkapan layar YouTub/Kementerian Keuangan RI)
0 Komentar

MENTERI Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, bakal memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kinerja dan Fakta (APBN KiTA) periode April 2026 besok, Selasa (19/5/2026). Dia mengeklaim, kinerja APBN hingga akhir April cukup apik, bahkan di luar perkiraan para ekonom.

“Yang penting gini, besok saya… saya ini, apa, akan ada APBN KiTA, laporan APBN KiTA sampai April. Itu hasilnya bagus pasti di luar pikiran para pengamat,” kata dia kepada awak media, di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

Purbaya menilai, realisasi APBN April yang akan dipaparkannya besok membuktikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat. “Jadi fondasi (ekonomi)kita memang betul-betul bagus,” tambahnya.

Baca Juga:Fatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas MencuatSMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di Kalbar

Pun, untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, pemerintah juga sudah melakukan intervensi di pasar obligasi.

Dengan rilis data APBN April esok dan juga masuknya pemerintah di pasar obligasi, Purbaya menilai gejolak nilai tukar rupiah akan mulai mereda pada pertengahan pekan ini.

“Saya pikir pertengahan minggu ini juga sudah mulai berkurang. Pemerintah sudah masuk ke bond market sedikit demi sedikit, asing juga mulai masuk, sehingga tekanan di bond mestinya berkurang. Biasanya kalau tekanan di bond berkurang, sentimen negatif juga berkurang ke nilai tukar,” jelas Purbaya.

Karena berbagai kondisi tersebut, Bendahara Negara itu meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan kondisi mata uang Garuda yang pada perdagangan hari ini ditutup di level Rp17.667 per dolar AS.

“Fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kita yang sebagian majalah Economist (The Economist) bilang berantakan. Nggak, kita bagus sekali,” katanya.

Sebaliknya, Purbaya menilai, The Economist pada dasarnya tidak mengerti apa yang kini sebenarnya dikerjakan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam mendorong ekonomi lebih tinggi, pemerintah tidak hanya berpangku pada belanja pemerintah saja, melainkan juga memacu kinerja sektor swasta dan daya beli masyarakat.

“Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6 (persen) triwulan pertama karena swasta juga mulai bergerak, bukan hanya government (belanja pemerintah) saja,” tegas Purbaya.

0 Komentar