Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, pandemi biasanya disebabkan oleh patogen baru atau jenis virus yang baru muncul. Misalnya, zoonosis — penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Jika suatu penyakit baru bagi manusia, sangat sedikit orang yang memiliki kekebalan. Vaksin juga belum tersedia. Hal ini dapat menyebabkan jumlah orang yang terinfeksi menjadi sangat besar.
Seberapa berbahaya atau mematikannya penyakit tergantung pada jenis virus dan kondisi kesehatan individu.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Meskipun secara persentase penyakit tersebut mungkin tidak terlalu berbahaya bagi sebagian besar orang, jumlah absolut kasus berat selama pandemi bisa sangat tinggi karena begitu banyak orang terinfeksi.
Penyakit yang sering mencapai skala pandemi adalah influenza. Pandemi influenza tahun 1918, yang dikenal sebagai flu Spanyol, menewaskan 25 hingga 50 juta orang — lebih banyak daripada korban Perang Dunia I. Flu babi (virus H1N1) juga memicu pandemi pada tahun 2009.
Namun, bahkan selama pandemi, beberapa wilayah tertentu bisa tidak terdampak, misalnya daerah pulau atau pegunungan. Akan tetapi, perjalanan udara mempercepat penyebaran pandemi.
“Epidemi” yang bukan dalam arti sebenarnya
Istilah epidemi dan pandemi biasanya merujuk pada penyakit menular. Namun, karena memberi kesan adanya kebutuhan tindakan segera, penyakit tidak menular atau kebiasaan tidak sehat kadang juga disebut “epidemi”.
Secara ketat, penggunaan ini bersifat metaforis atau kiasan, misalnya “epidemi diabetes” atau “epidemi opioid”. Istilah ini bahkan pernah digunakan untuk menggambarkan peningkatan perilaku kriminal dalam masyarakat, dengan media menyebut “epidemi pemerkosaan”. Namun, sebagian pihak menilai bahwa penggunaan istilah ini yang tidak tepat dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab pelaku.
