KEPOLISIAN Filipina menangkap seorang tersangka terkait baku tembak yang menggemparkan Gedung Senat di ibu kota Manila pada Rabu (13/5) malam waktu setempat. Baku tembak terjadi ketika upaya penangkapan dilakukan terhadap Senator Ronald Dela Rosa, yang juga mantan Kepolisian Nasional Filipina.
Dela Rosa, yang memimpin Kepolisian Nasional Filipina pada era mantan Presiden Rodrigo Duterte, seperti dilansir AFP, Kamis (14/5/2026), menjadi buronan setelah menghindari surat perintah penangkapan yang dirilis Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait kejahatan terhadap kemanusiaan, yang juga menyeret Duterte.
Insiden itu terjadi saat Dela Rosa berlindung di dalam Gedung Senat Filipina demi menghindari penangkapan.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Menteri Dalam Negeri Filipina, Juanito Victor Remulla, mengatakan bahwa dalam insiden itu, petugas keamanan Senat melepaskan “tembakan peringatan” ke arah beberapa pria bersenjata tak dikenal yang naik ke tangga gedung tersebut.
Pria-pria bersenjata itu, sebut Remulla, kemudian melepas tembakan ke udara dan pergi.
Sejumlah Senator Filipina yang ada di dalam gedung, termasuk Dela Rosa, membentengi diri di dalam kantor mereka saat insiden itu terjadi. Beruntung, baku tembak yang terjadi tidak memicu korban jiwa.
Tidak diketahui secara jelas soal berapa banyak tersangka yang terlibat dalam penembakan di Gedung Senat tersebut. Otoritas Filipina mengatakan penyelidikan masih berlangsung.
“Dia (tersangka-red) ditangkap di lokasi kejadian, di lantai dua Gedung Senat,” kata juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Brigadir Jenderal Randulf Tuano, kepada wartawan pada Kamis (14/5).
Kepolisian menyita amunisi dari tersangka yang berjenis kelamin laki-laki tersebut. Identitas tersangka belum diungkap ke publik, dan saat ini dia masih menjalani pemeriksaan untuk residu tembakan.
Dela Rosa, yang juga dikenal sebagai “Bato”, memimpin operasi pemberantasan narkoba yang mematikan pada era Rodrigo beberapa tahun lalu. Beberapa waktu terakhir, dia berlindung di dalam Gedung Senat untuk menghindari penangkapan berdasarkan surat perintah ICC.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Dela Rosa menjabat Kepala Kepolisian Nasional Filipina periode tahun 2016 hingga 2018, pada fase awal kampanye anti-narkoba Duterte. Operasi yang juga dijuluki “perang narkoba” itu menyebabkan kematian ribuan orang, banyak di antaranya pengguna narkoba dan pengedar narkoba level rendah.
