“Presiden selalu mengevaluasi dan membandingkan. Dia sadar betul bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu menciptakan kompetisi, sesuatu yang sangat dia hargai sejak era ‘The Apprentice’,” ungkap Brian Seitchik, pakar strategi Partai Republik.
Gaya Politik ‘Senggol-Bacok’ khas Trump
Mantan Direktur Komunikasi Gedung Putih, Alyssa Farah Griffin, menyebut dinamika ini sangat timpang.
“Setiap kali Marco Rubio berbicara, J.D. Vance seolah berada dalam posisi terpojok karena Rubio adalah kandidat Republik yang jauh lebih tangguh,” ujarnya.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Sikap Trump yang enggan memberikan restu meski menyebutnya sebagai tim impian menegaskan bahwa posisi J.D. Vance sebagai ‘pewaris takhta’ masih sangat jauh dari kata aman.
Di depan kamera dan di hadapan pendukungnya, Trump menunjukkan siapa yang memegang kendali mutlak, bahkan jika itu berarti harus merendahkan wakilnya sendiri di depan umum.
