Kenaikan Harga BBM Picu Ribuan Nelayan Pati Mogok Melaut

Ribuan massa memadati Alun-alun Simpang Lima Kabupaten Pati saat menggelar aksi unjuk rasa menuntut penurunan
Ribuan massa memadati Alun-alun Simpang Lima Kabupaten Pati saat menggelar aksi unjuk rasa menuntut penurunan harga BBM industri demi kelangsungan operasional melaut para nelayan
0 Komentar

RIBUAN nelayan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah memilih untuk tidak melaut akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang digunakan untuk operasional kapal. Tak hanya mogok melaut, para nelayan ini juga menggelar demo depan kantor Bupati Pati pada Senin, 4 Mei kemarin.

Kenaikan BBM di Indonesia terjadi sejak awal April 2026. Khususnya untuk harga solar industri yang sebelumnya berada di kisaran Rp14 ribu per liter naik menjadi sekitar Rp23 ribu, bahkan untuk jenis tertentu seperti solar marin disebut mencapai Rp30 ribu per liter.

Kondisi ini membuat aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) dan sektor perikanan di daerah tersebut mengalami penurunan drastis karena mayoritas nelayan tidak mampu menanggung biaya operasional yang meningkat tajam.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Damai Nelayan Perikanan Tangkap Pati Muhammad Agung menuntut agar harga BBM non subsidi diturunkan maksimal dua kali lipat dari harga subsidi, yakni sekitar Rp13.600 per liter.

Ia mengungkapkan saat ini harga BBM industri untuk nelayan mencapai Rp30.000 per liter, sehingga banyak kapal tidak dapat beroperasi.

“Dengan harga BBM Rp30.000 per liter, nelayan tidak mungkin melaut. Saat ini kapal dari Juwana yang berangkat hanya sekitar 15 persen,” ujarnya, dikutip Antara News, Senin (5/5/2026).

Sementara jumlah kapal nelayan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati berkisar antara 1.500 hingga 1.600 unit. Bahkan, sejumlah kapal yang sebelumnya melaut terpaksa kembali ke darat karena tidak mampu membeli harga BBM.

Agung menambahkan pihaknya tidak mengancam, namun akan terus mengawal tuntutan tersebut hingga ke pemerintah pusat apabila belum ada realisasi penurunan harga.

“Kami akan terus mengawal sampai ke pusat jika belum ada tindak lanjut,” ujarnya.

Nelayan juga mengeluhkan margin laba yang semakin menipis akibat tingginya biaya operasional, terutama BBM, sementara harga ikan relatif stabil. Dengan sistem bagi hasil yang diterapkan, kondisi ini membuat nelayan sulit memperoleh keuntungan.

Demo Nelayan di Depan Kantor Bupati Pati

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Aksi demonstrasi ribuan nelayan di Kabupaten Pati berlangsung pada 4 Mei 2026 sebagai puncak protes terhadap kenaikan harga BBM solar nonsubsidi yang dinilai sangat membebani biaya operasional melaut.

0 Komentar