“Menjaga ketahanan pangan itu harus berpikir siapa yang dilindungi, dan itu adalah peternak rakyat,” ucap dia.
Pengurus PINSAR Petelur Nasional, Suwardi menambahkan kabar mengenai anak sekolah yang bosan makan telur dianggap sebagai alasan yang tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab. “Ada keluhan katanya anak SD kalau diberi telur 3-4 hari berturut-turut bosan. Seharusnya ini tidak boleh terjadi,” katanya.
Padahal tujuan program untuk mempersiapkan gizi anak-anak menuju Indonesia Emas, sekaligus menyerap produksi peternak. “Kalau guru-gurunya saja tidak bertanggung jawab membiarkan telur tidak dimakan, ya serapan pasti rendah,” ujar dia.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Pihaknya mengaku para peternak banyak berharap dengan adanya MBG untuk penyerapan telur. Namun harapan itu justru berbanding terbalik dengan kenyataan.
Lebih jauh, Suwardi mengungkapkan serapan telur untuk program MBG saat ini disebut baru menyentuh angka 1 persen. Apalagi, saat ini daya beli masyarakat juga turun.
“Euforia adanya MBG kemarin yang disampaikan semua akan mendukung program ketahanan pangan. Yang sudah terjadi adalah kebutuhan telur kita cukup, daya beli rendah, MBG serapannya juga tidak maksimal sehingga kondisi telur menumpuk harganya terpuruk,” tuturnya.
Ia mengaku saat diminta oleh Pemerintah untuk menjaga stok dan ketahanan pangan dalam pemenuhan protein anak-anak. Kebutuhan itu, kata dia, juga awalnya untuk menyuplai daerah terpencil.
“Pemerintah berharap untuk menjaga ketahanan pangan, stok telur dan meningkatkan potensi kebutuhan untuk protein anak-anak, yang paling mudah adalah telur. Paling mudah harganya juga murah, kan seperti itu. Ada sedikit daerah-daerah terpencil yang di situ memang distribusinya susah, itu kita maklumi,” katanya.
Selain MBG, peternak mendorong diversifikasi program penyerapan seperti intervensi gizi untuk ibu hamil dan penanganan stunting yang angkanya masih tinggi. Mereka menilai program-program ini dapat menjadi solusi ganda: memperbaiki kesehatan masyarakat sekaligus menyerap produksi telur. Tanpa langkah tersebut, surplus produksi akan terus menekan harga.
“Kalau penyerapan tidak ditingkatkan lewat berbagai program, produksi yang over ini akan terus menekan harga.”
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Secara nasional, katanya, produksi telur saat ini telah mencapai 18 ribu ton atau sekitar 280 juta butir per hari. Sementara kebutuhan ideal untuk MBG diperkirakan 83,5 juta butir, realisasinya baru sekitar 70 juta. Kesenjangan ini memperlihatkan lemahnya perencanaan dan implementasi program. “Produksi kami sudah cukup, tapi serapan MBG belum maksimal sehingga produksi over,” ungkapnya.
