Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, yang dibangun dari solidaritas masyarakat Indonesia, tercatat berulang kali terdampak serangan militer Israel sejak 2023 hingga saat ini. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan pola eskalasi yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Pada November 2023, Rumah Sakit Indonesia menjadi salah satu titik yang terdampak intensifikasi serangan di Gaza Utara. Laporan menyebutkan bahwa area sekitar rumah sakit dihantam bombardir, menyebabkan kerusakan pada bangunan serta memicu kepanikan di antara pasien dan tenaga medis. Dalam beberapa kejadian, akses menuju rumah sakit juga terganggu akibat puing-puing dan serangan lanjutan.
Memasuki Desember 2023, situasi belum mereda. Serangan kembali dilaporkan terjadi di sekitar kompleks rumah sakit, termasuk tembakan artileri yang mempersempit ruang gerak tenaga medis. Pada fase ini, rumah sakit mulai mengalami tekanan serius dalam operasional, terutama akibat terbatasnya pasokan listrik dan bahan bakar.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Pada 2024, rangkaian gangguan terhadap Rumah Sakit Indonesia terus berlanjut, meski dengan intensitas yang fluktuatif. Beberapa laporan menyebutkan insiden penembakan di sekitar area rumah sakit serta kerusakan infrastruktur pendukung. Kondisi ini membuat layanan kesehatan berjalan dalam keterbatasan, sementara kebutuhan medis warga Gaza terus meningkat.
Memasuki 2025, eskalasi kembali meningkat. Pada pertengahan Mei 2025, serangan udara dan artileri dilaporkan menghantam kawasan sekitar rumah sakit secara berturut-turut. Dalam beberapa hari, akses jalan rusak, jaringan listrik terganggu, dan kapasitas layanan medis tertekan. Tenaga kesehatan harus bekerja di bawah ancaman langsung, sementara jumlah korban luka terus bertambah.
Situasi semakin kritis ketika pasokan bahan bakar untuk generator menipis, mengancam operasional alat medis vital. Dalam kondisi tersebut, rumah sakit terpaksa membatasi layanan tertentu. Laporan juga menyebutkan bahwa sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan akibat getaran ledakan dan dampak serangan di sekitarnya.
Memasuki 2026, tekanan terhadap Rumah Sakit Indonesia belum sepenuhnya mereda. Insiden serangan di wilayah Gaza Utara masih dilaporkan berdampak pada operasional rumah sakit, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap distribusi logistik dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan terus menjadi tantangan utama.
