PRESIDEN China Xi Jinping akhirnya buka suara pada Rabu (22/4) tentang aksi ‘penyanderaan’ Selat Hormuz oleh Iran dan Amerika Serikat yang mengganggu rantai pasok energi dunia.
Ia membahas persoalan penutupan jalur strategis itu oleh Iran dan Amerika Serikat melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman (MbS).
Kepada Pangeran MbS, Xi Jinping menegaskan kembali dukungan atas “semua upaya yang mengarah pada pemulihan perdamaian dan mendukung penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik.”
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Selat Hormuz harus mempertahankan jalur pelayaran normal, karena hal ini melayani kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional,” kata Xi, menurut pernyataan resmi Tiongkok tentang percakapan telepon tersebut, dikutip dari Al Jazeera.
Penyampaian pernyataan itu tidak spesifik menyinggung pihak-pihak seperti Iran dan AS yang terlibat dalam blokade Selat Hormuz.
Namun, Xi menyatakan penutupan Selat Hormuz melumpuhkan jalur perairan strategis tersebut selama tujuh minggu terakhir.
Iran menutup selat tersebut untuk sebagian besar lalu lintas maritim setelah meletus perang melawan AS dan Israel pada 28 Februari. AS kemudian melancarkan blokade terhadap semua pelabuhan Iran pada 13 April.
Kekhawatiran dan keprihatinan mendalam Xi amat bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump di akun media sosial Truth.
“Saya memenangkan Perang, dengan telak, semuanya berjalan sangat baik,” tulis Trump.
Ia juga menegaskan kembali bahwa blokade angkatan laut akan berlanjut sampai Washington mencapai “kesepakatan” dengan Teheran.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Sejumlah analis global menilai China menggunakan perang AS-Israel dengan Iran dengan menampilkan sikap negara itu sebagai negara adidaya yang lebih bertanggung jawab di antara dua negara adidaya dunia.
“China memperoleh keuntungan bukan dengan melakukan langkah-langkah dramatis, tetapi dengan menunggu dan mengamati serta memanfaatkan peluang yang tersedia untuk memposisikan diri, dan membiarkan Amerika menangani kekacauan tersebut,” kata kepala program kebijakan Asia-Israel di Institut Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Abba Eban, Gedaliah Afterman.
