Fakta Mengejutkan Tim Kepresidenan Terpaksa 'Isolasi' Trump Saat 2 Pilot Jet Tempur F-15 Hilang di Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Getty)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Getty)
0 Komentar

DRAMA di balik layar pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali terkuak. Presiden Donald Trump dilaporkan kehilangan kendali emosi hingga berteriak selama berjam-jam kepada para pembantunya saat mengetahui dua pilot jet tempur F-15 AS hilang di wilayah Iran pada momen Jumat Agung lalu.

Laporan The Wall Street Journal yang dirilis Minggu (19/4/2026) mengungkap fakta mengejutkan: tim kepresidenan terpaksa ‘mengisolasi’ Trump dari Ruang Situasi (Situation Room) agar tidak mengganggu jalannya operasi penyelamatan yang sangat sensitif.

Trauma Krisis Sandera 1979

Ketegangan bermula ketika jet tempur F-15 milik militer AS ditembak jatuh oleh Iran pada 3 April. Insiden ini memicu misi penyelamatan berisiko tinggi di wilayah musuh. Satu awak berhasil dievakuasi segera, namun satu lainnya sempat terjebak selama lebih dari 24 jam di pegunungan Iran yang berbahaya.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Seorang pejabat senior pemerintahan menyebut, Trump mengalami kecemasan hebat karena dihantui sejarah kelam krisis sandera Iran tahun 1979. Ketakutan akan kegagalan kebijakan internasional yang masif membuat emosinya meledak.

“Para ajudan menjaga presiden agar tidak masuk ke ruangan saat mereka mendapatkan informasi terkini setiap menit, karena mereka percaya ketidaksabarannya tidak akan membantu,” ujar sumber tersebut.

Selama operasi berlangsung, tokoh-tokoh kunci seperti Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles tetap terhubung di Ruang Situasi. Sementara itu, Trump hanya diberi informasi pada momen-momen krusial tanpa diizinkan terlibat dalam proses pengambilan keputusan teknis di lapangan.

Peran CIA dan Ancaman ‘Neraka’

Penyelamatan awak pesawat kedua akhirnya berhasil dilakukan berkat bantuan intelijen CIA yang melakukan kampanye penipuan (deception) untuk mengecoh militer Iran. Pilot tersebut ditemukan di celah gunung yang nyaris tak terlihat sebelum akhirnya dievakuasi.

Setelah mendengar kabar keselamatan pilotnya, Trump langsung merayakan keberhasilan tersebut melalui platform Truth Social pada tengah malam. Namun, euforia itu segera berubah menjadi ancaman agresif.

Keesokan paginya, Trump memerintahkan Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. “Bukalah selat itu atau kalian akan hidup di neraka,” tulisnya. Ia bahkan sesumbar mengancam bahwa “seluruh peradaban akan mati dalam semalam” jika Teheran tidak mematuhi perintahnya.

0 Komentar