Blokade Laut Amerika Serikat Masih Berlangsung, Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

Selat Hormuz
Selat Hormuz
0 Komentar

KETEGANGAN di jalur energi global kembali meningkat setelah Iran menutup lagi Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah sebelumnya dibuka. Keputusan itu diambil sebagai respons atas blokade laut Amerika Serikat yang masih berlangsung.

Pengumuman penutupan disampaikan otoritas militer Teheran pada Sabtu (18/4) waktu setempat Televisi pemerintah melaporkan kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke status sebelumnya dengan pengawasan ketat angkatan bersenjata.

“Pengelolaan selat kembali berada di bawah kontrol penuh militer dan diawasi secara ketat,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media pemerintah.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Langkah itu langsung berdampak pada lalu lintas kapal di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut. Data pelacakan maritim menunjukkan sejumlah kapal sempat berupaya melintas dengan mengikuti instruksi Iran yakni mendekat ke perairan teritorialnya.

Beberapa bahkan mengidentifikasi diri sebagai kapal dari India atau Tiongkok untuk menegaskan posisi netral. Hingga Sabtu pagi waktu setempat, sedikitnya 8 tanker minyak dan gas berhasil melintasi selat. Namun kapal-kapal lain dilaporkan berbalik arah setelah sempat bergerak keluar dari Teluk.

Penutupan ulang ini kontras dengan situasi sehari sebelumnya ketika Iran membuka Selat Hormuz menyusul gencatan senjata di Libanon. Pembukaan itu sempat memicu euforia pasar global dan menekan harga minyak.

Namun, keputusan Washington mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran memicu respons keras dari Teheran.

Langkah Iran sekaligus menimbulkan keraguan atas pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang sehari sebelumnya menyebut kesepakatan damai dengan Iran sudah sangat dekat.

Di sisi lain, proses diplomasi terus berjalan. Pakistan tampil sebagai mediator utama, dengan upaya intensif melibatkan sejumlah negara kawasan. Kepala militer Pakistan Asim Munir baru saja menyelesaikan kunjungan ke Teheran sedangkan Perdana Menteri Shehbaz Sharif bergerak ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki untuk mendorong tercapainya kesepakatan.

Mesir juga menunjukkan optimisme. Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty menyebut peluang kesepakatan terbuka dalam waktu dekat.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

“Kami berharap kesepakatan final bisa tercapai dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Meski demikian, dua isu krusial masih menjadi ganjalan yaitu masa depan Selat Hormuz dan nasib cadangan uranium Iran yang telah diperkaya. Trump mengklaim Iran siap menyerahkan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Namun klaim itu dibantah Teheran.

0 Komentar