“Hal ini tentunya menunjukkan pendekatan diplomasi ekonomi Indonesia yang pragmatis dan berorientasi pada keseimbangan kepentingan nasional,” jelas Airlangga.
Airlangga juga menegaskan pentingnya pendekatan realisme dalam diplomasi ekonomi Indonesia. Menurutnya, pergeseran dinamika geopolitik global menuntut Indonesia untuk tetap menjaga keseimbangan dan menjalin kerja sama dengan semua negara, tanpa berpihak secara eksklusif pada satu kekuatan tertentu.
Sementara itu, Rektor UGM, Prof Ova Emilia menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pengawal kebijakan nasional di tingkat regional maupun global. Menurutnya, kebebasan akademik menjadi fondasi penting dalam merespons isu strategis secara bertanggung jawab.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“UGM menjunjung tinggi kebebasan akademik untuk merespons isu strategis nasional maupun global, sekaligus memastikan penyampaian gagasan dilakukan secara beretika dan berdampak bagi pembangunan bangsa,” ujar Ova Emilia.
Pemikiran akademik perguruan tinggi tidak seharusnya dipandang sebagai gagasan yang liar, melainkan sebagai aset intelektual bangsa yang memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah. Ia menekankan bahwa ruang dialog seperti FGD menjadi wadah penting untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang positif, sekaligus menegaskan kesiapan UGM untuk terus membantu, terlibat, dan mendukung berbagai program strategis pemerintah.
