Hari Terburuk Angkatan Udara Amerika Serikat: Pilot Hilang, 2 Pesawat Tempur Jatuh dan 2 Helikopter Tertembak

Puing jet tempur AS yang diklaim Iran sebagai F-35. (Turkiye Today/Tasnim)
Puing jet tempur AS yang diklaim Iran sebagai F-35. (Turkiye Today/Tasnim)
0 Komentar

ANGKATAN Udara Amerika Serikat (USAF) mencatat hari terburuk sejak konflik dengan Iran pecah. Pada Jumat (3/4/2026), dua pesawat tempur dilaporkan jatuh, dua helikopter rusak tertembak, dan seorang pilot hingga kini masih dinyatakan hilang di wilayah musuh.

Ketegangan bermula saat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah menjatuhkan jet siluman F-35. Namun, analisis puing menunjukkan pesawat tersebut adalah F-15E Strike Eagle asal Pangkalan Lakenheath, Inggris. Pejabat AS kemudian mengonfirmasi jatuhnya F-15E tersebut dan menyatakan operasi penyelamatan tengah berlangsung.

Satu pilot F-15E berhasil dievakuasi dalam misi SAR tempur yang dramatis. Satu pilot lainnya masih dalam pencarian di wilayah barat daya Iran. Kondisi ini kian genting setelah otoritas lokal Iran menjanjikan imbalan bagi siapa pun yang mampu menangkap personel militer AS tersebut.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Kerugian AS bertambah saat jet serang A-10 Thunderbolt II yang memberikan dukungan udara bagi misi pencarian juga terkena tembakan. Pilot A-10 sempat mengarahkan pesawat keluar dari zona bahaya menuju Kuwait sebelum akhirnya melontarkan diri dengan selamat.

Tak hanya pesawat tempur, dua helikopter tim penyelamat juga dilaporkan rusak akibat tembakan darat Iran. Insiden ini memaksa armada SAR mundur dengan satu personel militer dilaporkan mengalami luka-luka.

Situs pelacakan FlightRadar24 turut menangkap sinyal darurat (kode 7700) dari jet F-16CJ dan pesawat tanker KC-135R milik AS di wilayah tersebut. Di saat bersamaan, dua drone MQ-9 Reaper senilai US$ 60 juta juga dilaporkan jatuh di Provinsi Isfahan.

Analis militer, Tyler Rogoway, menilai sistem pertahanan udara bergerak Iran menjadi ancaman paling mematikan. “Sistem ini bisa muncul tiba-tiba dan sulit dilacak, memberikan waktu reaksi yang sangat sempit bagi awak pesawat,” ungkapnya.

Pakar dari FDD, Behnam Ben Taleblu, menduga Iran menggunakan rudal panggul (manpads) yang sulit dideteksi. Meskipun militer AS mengeklaim telah melemahkan kekuatan Teheran, insiden ini membuktikan bahwa pertahanan udara Iran masih sangat berbahaya bagi jet tempur yang terbang rendah.

0 Komentar