MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak dimaksudkan untuk menggulingkan kepemimpinan negara tersebut, meski ia mengakui dampak operasi militer itu sangat luas.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth pada konferensi pers di hari Senin bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
“Ini bukan perang yang disebut-sebut sebagai perang untuk mengganti rezim, tetapi rezim itu memang telah berubah,” ujarnya, dikutip dari TRT World, Selasa, 3 Maret 2026.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Komentar itu muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iranpada 28 Februari. Operasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi keamanan lainnya.
Hegseth menegaskan bahwa tujuan Operasi Epic Fury sangat spesifik.
“Misi Operasi Epic Fury sangat terfokus. Menghancurkan rudal ofensif Iran, menghancurkan produksi rudal Iran, melumpuhkan angkatan laut serta infrastruktur keamanan lainnya, dan memastikan mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Iran tengah mengembangkan rudal dan drone yang disebutnya berkekuatan besar guna membangun “tameng konvensional bagi ambisi pemerasan nuklir mereka.”
Meski demikian, Hegseth memastikan bahwa konflik ini tidak akan berkembang menjadi perang tanpa akhir. Ia menyebut operasi tersebut tidak dirancang sebagai sebuah perang yang tidak berkesudahan.
Operation Epic Fury
Sebelumnya, Hegseth menguraikan bahwa misi Operation Epic Fury diarahkan secara spesifik untuk melumpuhkan infrastruktur keamanan dan militer Iran agar negara tersebut tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
“Kami menyerang mereka secara presisi, luar biasa, dan tanpa penyesalan,” tegas Hegseth. Ia menambahkan bahwa setiap hari kapabilitas militer AS akan semakin kuat sementara kekuatan Iran akan terus melemah.
Hegseth mengklaim bahwa Amerika Serikat sedang mengerahkan kampanye kekuatan udara paling mematikan dan presisi dalam sejarah, tanpa memedulikan kecaman dari institusi internasional. Operasi ini melibatkan berbagai teknologi canggih seperti pesawat pengebom siluman B-2, jet tempur, drone, rudal, serta efek-efek militer terklasifikasi lainnya.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
“Presiden Trump sangat konsisten. Rezim gila seperti Iran, yang terobsesi dengan delusi Islamis profetik, tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini adalah akal sehat,” ujar Hegseth.
