Alireza Arafi Pengganti Ali Khamenei, Pemimpin Transisi Iran di Tengah Operation Epic Fury

Alireza Arafi
Alireza Arafi
0 Komentar

REPUBLIK Islam Iran bergerak cepat mengisi kekosongan kursi kekuasaan. Pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), Teheran resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran.

Langkah krusial ini diambil guna menjaga stabilitas negara di tengah duka mendalam dan ancaman perang yang kian nyata. Arafi, ulama senior yang telah lama mengakar di lingkaran elite politik dan keagamaan, kini memikul beban berat untuk menakhodai Iran melewati masa-masa paling kritis sejak Revolusi 1979.

Siapa Sebenarnya Alireza Arafi?

Lahir di Meybod pada 1959, Alireza Arafi bukanlah nama baru di jagat Syiah. Ia tumbuh di lingkungan ulama dan menempuh pendidikan di Qom, episentrum pemikiran teologis Iran. Kredensial agamanya tak main-main; ia menyandang gelar mujtahid, kasta ulama yang memiliki kewenangan mandiri dalam mengeluarkan fatwa.

Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza

Kariernya melesat bak meteor di bawah bayang-bayang mendiang Khamenei. Arafi pernah menduduki posisi strategis sebagai Imam Salat Jumat di Qom dan memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa—sebuah lembaga yang melatih kader-kader ulama internasional. Pada 2019, perannya makin sentral setelah didapuk menjadi anggota Dewan Garda, lembaga yang punya kuasa menyaring setiap calon pemimpin politik di Iran.

Lembaga kajian Council on Foreign Relations (CFR) bahkan menyebut Arafi sebagai sosok yang berdiri kokoh di ‘inti jantung’ elite ulama Iran.

Sesuai hukum dasar Iran, suksesi Pemimpin Tertinggi harus melalui mekanisme Majelis Ahli. Namun, dalam kondisi darurat pasca-serangan Sabtu kelabu, penunjukan Arafi sebagai nakhoda transisi menjadi jalan tengah untuk menjalankan fungsi pemerintahan.

Meski namanya bersaing dengan sejumlah tokoh garis keras dan ulama pragmatis lainnya, posisi Arafi di Dewan Garda dan Majelis Ahli memberinya keunggulan institusional yang sulit ditandingi. Ia dianggap mampu merekatkan berbagai faksi yang kini tengah terguncang.

Dalam berbagai kesempatan, Arafi dikenal vokal menyuarakan Islam Syiah yang aktif secara politik. Ia pernah menegaskan bahwa lembaga keagamaan harus bersifat revolusioner dan internasional dalam membela kaum tertindas.

“Lembaga pendidikan agama perlu berasal dari rakyat dan bersolidaritas dengan kaum tertindas,” tegasnya dalam sebuah pernyataan yang mencerminkan garis keras ideologi Teheran.

0 Komentar