“Pada awal Bis Esto hadir, jam keberangkatan dan kedatangan disesuaikan dengan Kereta Api di Stasiun Tuntang dan Stasiun Bringin,” ungkapnya.
“Kodhok Ijo” begitulah julukan dari para pelanggan Bis Esto ini. Di dalam buku ini disebutkan bahwa jaman dulu terdapat perbedaan antara ruangan bis dan tarif bis, yaitu dibagi menjadi penumpang berkebangsaan Belanda dan Pribumi.
Pada saat itu Bis Esto juga berperan dalam dunia pendidikan yaitu memberikan sumbangan sebesar Rp.500 setiap bulannya kepada UNDIP.
Baca Juga:Song Jae-rim Ditemukan Meninggal Penyebab Kematian Belum Terkonfirmasi, Ada 2 Lembar SuratPernah Ditolak Amerika Serikat, Kini Presiden Prabowo Subianto Menuju Washington
Tidak hanya beroperasi di Salatiga, seiring waktu Bis Esto juga beroperasi ke daerah lainnya seperti Semarang, Solo, Magelang, Sragen, Kudus dan lainnya. Dikarenakan terjadi krisis ekonomi, perusahaan akhirnya menjual banyak armadanya untuk membayar hutang dan melanjutkan usahanya dengan sisa yang beroperasi di rute Salatiga-Ambarawa.
Kini Bis Esto yang usianya genap satu abad lebih pada tahun ini hanya menjadi kenangan di hati masyarakat Kota Salatiga, Kodhok Ijo itu benar-benar berhenti menjelajahi kota-kota pada tahun 2018 dan istirahat dari eksistensi dunia transportasi Salatiga dimana ia menjadi pelopor transportasi bis pertama di Kota Salatiga.
Selain melahirkan banyak karya buku, Eddy Supangkat juga menyalurkan kecintaannya terhadap Kota Salatiga melalui lagu. Kegiatan menciptakan lagu ini dilakukan sejak ia duduk di bangku SMA. Eddy mengikuti kegiatan natal dan menciptakan lagu sehingga kemampuannya terasah di bidang musik. Pada tahun 2007, ia mendapatkan rekor muri dari album musik unik. Rekor muri adalah sebuah museum yang terletak di Semarang.
Museum ini merupakan tempat dicatatnya data prestasi superlatif yang terjadi di Indonesia. Album Eddy yang masuk dalam rekor muri bernama “Album Unik Serba Tiga” merupakan album yang mempunyai unsur unik dan langka karena album tersebut berkaitan erat dengan angka tiga.
“Album unik serba tiga merupakan album yang berisi tiga lagu dan semuanya tentang Salatiga, lagu ini dinyanyikan oleh tiga generasi yang berbeda, diaransemen dengan tiga jenis musik yang berbeda, dari tiga lagu tersebut judulnya memakai Kota Salatiga, kemudian diluncurkan di Salatiga pada tanggal tiga, bulan tiga, dan jam tiga, menit ke 33, media yang ngeliput ada 3 dan lagu tersebut menggunakan 3 bahasa yaitu bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa jawa” ungkapnya.
